Your Ad Here






   

<< August 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31



Add text or HTML here


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed

Wednesday, August 03, 2005
TERSIMPAN WAWANCARA DR. HUSAINI DGN MEDIA KUTARAJA


GAM sekarang bukanlah lagi GAM HT tetapi GAM MZ (GAM Malik-Zaini), sebab Tengku HT tidak lagi aktif . Beliau sudah 3 tahun sakit dan tidak lagi dapat memimpin. Pernyataan-pernyataan HT selama 3(tiga) tahun ini hanyalah sandiwara MZ yang bermain dibelakang nama HT untuk mengelabui mata rakyat Aceh yang fanatik kepada HT. GAM MZ telah mengambil alih kekuasaan GAMHT untuk kepentingan golongan mereka sendiri dan tidak mau bekerjasama dengan fraksi pejuang-pejuang bangsa Aceh karena mereka takut kedudukan mereka akan terancam

Tengku, WN, tinggal bersama saya satu tahun lebih. Dengan modal beasiswa yang saya peroleh, kami berdua menghidupkan dan mengatur kembali GAM yang sudah sangat morat-marit. Jangankan untuk membeli perlengkapan militer, untuk biaya telefon dan transport saja susah. Setelah enam bulan saya di Sweden , saya memperoleh pekerjaan sebagai dokter Radiologi dibagian X-ray diagnostic.


Walaupun dengan beasiswa yang pas-pasan, tapi kami berhasil membiayai Malik Mahmud untuk datang ke Sweden dan menyusun kembali rencana dan strategi GAM selanjutnya

1. Ada yang menyatakan, kegiatan awal Teungku pada GAM hanya sekedar protes ketidakadilan di bidang ekonomi yang dilakukan oleh pemeritah Indonesia terhadap Aceh?

Tentu yang menyatakan itu tidak mengetahui latar belakang sejarah Aceh dan samasekali tidak mengikuti apa yang kami kerjakan selama tiga tahun pertama semasa saya dan kawan-kawan hijrah ke rimba belantara Aceh. Yang pertama kami lakukan adalah Pernyataan Proklamasi Kemerdekaan Negara Aceh. Kemudian mengisi dan membangun Negara Aceh tersebut. Bukan hanya protes ketidak adilan dibidang ekonomi, tetapi lebih luas dan lebih bermakna dari itu. Yang kami maksud dengan Negara Aceh adalah Negara yang berdaulat di Negeri Aceh dari rakyat Aceh dan untuk rakyat Aceh. Dan semuanya ditentukan di Aceh. Kita Aceh adalah satu bangsa seperti bangsa lain didunia, yang mempunyai Negeri, rakyat dan sejarah kita sendiri yang cukup gemilang yang tidak kalah heroiknya dibandingkan dengan sejarah bangsa-bangsa di dunia. Kita berhak menjadi Tuan dirumah kita sendiri, dinegeri kita sendiri Negeri Aceh, bukan seperti Propinsi NanggroŽ Aceh Darussalam(NAD) yang masih menyembah ke Jakarta dan segala-galanya masih ditentukan di Jakarta menurut kepentingan Jakarta. Bukan hanya ekonomi, tetapi politik, militer, agama, budaya semuanya tidak perlu berkiblat ke Jakarta, tetapi kita tentukan sendiri disini di Aceh menurut kepentingan dan selera kita sendiri.

2. Bisa dikisahkan pengalaman ketika naik gunung dan proses proklamasi di Gunung Halimon?

Kisah pengalaman naik gunung dan proses proklamasi ini adalah sejarah yang tidak dapat saya jawab hanya dengan beberapa baris jawaban. Ini menghendaki penulisan buku yang insya Allah akan saya usahakan untuk menjawabnya secara berseri kalau Saudara-saudara berminat.

Secara singkat dapat saya ceritakan bahwa setelah proklamasi kami sebarkan dan ditulis dengan Head line dalam surat-surat kabar WASPADA, MIMBAR UMUM di Medan dan surat-surat kabar di Jakarta dan diseluruh dunia maka kami yang aktif di Medan harus hijrah, karena tidak berapa lama kemudian Kabinet Pertama Negara Aceh harus diumumkan. Saya, Dr. Mukhtar Yahya Hasbi, Dr. Zaini Abdullah, Dr. Zubir Mahmud, Ir. Asnawi Ali, Amir Ishak yang namanya akan diumumkan sebagai Menteri-menteri Kabinet Pertama Negara Aceh tentu saja tidak dapat lagi tinggal di Medan dan mau tidak mau harus hijrah meninggalkan kerja, karir, keluarga yang tercinta, kawan-kawan dan kehidupan kemewahan kota.

Kami mula-mula hijrah ke Wilayah TeumiŽng pada 2 hb. Juli 1977, bertemu dengan Gubernur Wilayah TeumiŽng Tengku Sjamma'un. Saya sangat terkesan dengan sikap orang tua ini yang dipanggil sehari-hari sebagai NŤk 'Un. Terbayang oleh saya bagaimana beliau berjalan didepan dengan parang terhunus di bahu depan sebelah kanan, dengan dada busung dan mata liar dan tajam memimpin kami menyebrangi sungai, menempuh rawa-rawa dan rimba menuju ke Barat. Sikap beliau ini tidak kalah dibandingkan dengan seorang jenderal yang sedang memimpin pasukan perang yang tidak ada istilah gentar atau takut dalam kamus kepemimpinan beliau. Beliau hanya mengantarkan kami sampai diperbatasan. Dari Wilayah TeumiŽng telah menanti kereta yang membawa kami ke Wilayah Peureulak dan dengan berjalan kaki kami tiba di Wilayah Pase. Sampai di Panton Labu Dr. Mukhtar berpisah dengan kami dan beliau mencari kontak dengan ayah beliau Abu Hasbi, orang pertama yang hijrah di Wilajah Pase. Kami lama tertunda di Panton Labu. Salah satu asrama kami disini berada di sekitar kawasan beruang. Setiap pagi kami mendengar suara beruang yang terengah-engah menguak pohon kayu yang mengandung sarang lebah. Pada suatu hari saya pergi mencari kayu kering untuk kayu api. Sedang saya mematah-matahkan kayu "Tampu" kering yang suaranya sangat besar dan bergema seperti suara senapang. Tiba-tiba sebuah benda besar meluncur dengan kencangnya dari pohon diatas saya, dan jatuh berdebam didepan saya. Rupanya seekor beruang kelabu sebesar anak kerbau yang berada diatas pohon kayu diatas saya, sangat terkejut akan suara patahan kayu dan meluncur dengan cepatnya dan segera lari didepan saya. Kejadian itu sangat cepat sehingga saya tidak dapat berbuat apa-apa kecuali terbengang-bengang menghentikan nafas, sangat terkejut.
Kira-kira dua bulan kami di Panton Labu barulah kami mendapat hubungan kembali dengan Dr. Mukhtar dan kami berjalan kaki, pindah bergabung dengan Abu Hasbi. Dari sini kami menunggu pasukan yang akan menjemput kami ke Komando di Wilayah PidiŽ. Tidak berapa lama kami di Wilajah Pase, datang rombongan Tengku Mohd. Daud Husin dengan pasukannya ke Wilayah Pase, menjemput kami ke Komando Markas Besar di Wilayah berdaulat di Rimba PidiŽ.

Kami tiba di Wilayah PidiŽ pada malam hari Raya Idulfithri 1977. Pagi hari Raya tersebut saya terkena demam malaria. Demam panas dan menggigil menyerang saya, sehingga saya tidak sanggup lagi berjalan kaki mendaki gunung. Saya sangat terharu melihat penduduk kampung berbondong-bondong datang mengunjungi kami membawa juadah hari raya dan sangat senang berjumpa kami. Jelas terbayang dimata mereka harapan yang sangat besar digantungkan kepada kami sarjana-sarjana muda Aceh yang langsung terjun ke lapangan memimpin bangsa demi kemerdekaan.

Saya didukung berganti-ganti oleh Tengku Abdul Muthalib, Tengku di Barat dan Abubakar. Dan kemudian saya ditandu dengan tandu "goni". Setelah satu hari satu malam berjalan kaki kami tiba di Komando ketika pagi hari esoknya. Demam panas yang menyerang saya dan keadaan perjalanan yang memenatkan membuat saya kadang-kadang pingsan tidak sadarkan diri. Setelah saya sadar, saya mengetahui bahwa saya berada dikemah Wali Negara Tengku Hasan Mohammad di Tiro. Sejak saat itu saya selalu berada disamping beliau dan membantu beliau dalam tugas sehari-sehari mengatur jalannya pemerintahan Negara Aceh yang baru lahir kembali. Di Komando saat itu telah datang Tengku Iljas Leube dari Wilajah Lingga dan wakil-wakil dari Wilayah-Wilayah diseluruh Aceh. Hawa gunung yang sejuk dan segar membuat kesehatan saya berangsur pulih. Dan masa itu keadaan cukup baik. Makanan di Komando berlimpah.

Setelah dua minggu kami di komando, diadakan Khanduri besar Negara Aceh untuk menyambut kedatangan kami dan serentak mengadakan Pelantikan Kabinet Pertama Negara Aceh. Setelah pembacaan do'a dan panabalan Menteri-menteri maka masing-masing Menteri berpidato didepan para hadhirin, kecuali dua orang menteri yang tidak memberikan pidatonya karena kedua mereka tidak berada di Aceh. yi. Menteri Negara Malik Mahmud dan Menteri urusan Perdagangan Amir Mahmud. Sayang sekali mereka tidak merasakan bagaimana terharunya suasana pada waktu itu dimana para hadirin menyucurkan air mata berpeluk-pelukan dengan para Menteri Negara Aceh yang telah lahir kembali setelah 103 tahun Aceh kehilangan Kabinet Negaranya.

3. Mengapa akhirnya Teungku meninggalkan Aceh?

Wali Negara berangkat keluar Negeri dengan janji paling cepat 3(tiga) bulan paling lambat 6 (enam) bulan beliau akan kembali dengan membawa pulang perlengkapan militer. Setelah lebih dari enam bulan WN belum juga kembali dan tidak ada khabar dari beliau maka saya selaku Sekretaris Negara ditugaskan oleh Majelis Menteri yang diketuai oleh Dr. Mukhtar untuk berangkat keluar negeri menjumpai Wali Negara. Saya berangkat keluar Negeri setelah satu tahun Wali Negara belum juga kembali. Dan rakyat Aceh yang menanti kehadiran Wali Negara telah menjadi gelisah.

4. Motif Teungku bergabung dengan GAM?

GAM adalah nama yang disebutkan oleh tentera RI, TNI untuk AGAM. Saya yang menciptakan nama AGAM yaitu singkatan dari Angkatan Aceh Merdeka, yang pada mulanya disebut A.M. Idť Kemerdekaan Aceh memang telah ada dalam benak saya, setelah pengalaman pahit yang saya derita dimasa ayah kandung saya Hasan PIM ditembak oleh TNI ditahun 1953. Beliau adalah Komandan Tentera Darul Islam yang memimpin pasukan penyerangan atas kota Sigli dihari pertama Pemberontakan DI.-Aceh. Kuburan ayah tidak dibenarkan untuk dikunjungi oleh keluarga hingga satu tahun, dan tidak dikuburkan dengan sewajarnya bersama-sama satu lubang dengan 12 orang syuhada ditepi pantai, dibelakang rumah mayat Sigli.

Sahabat saya Dr. Mokhtar Yahya Hasbi menceriterakan kepada saya bahwa beliau telah berjumpa dengan Tengku Hasan Mohammad di Tiro sewaktu beliau belajar di Bangkok. Kesan beliau kepada Tengku Hasan yang cukup bonafide di Luar Negeri, yang mempunyai hubungan baik dengan Raja-raja al. Shah Iran, Raja Saud, Raja Thailand dan Kurt Walrdheim pada masa itu Sekjen PBB. Setelah membaca buku "Aceh bak mata dŰnja" yang ditulis oleh tengku Hasan Muhammad di Tiro meyakinkan saya bahwa beliau adalah anak Aceh tulen yang benar-benar memperjuangkan identiti kebangsaan Aceh. Buku tersebut telah membuka mata saya untuk melihat Aceh sebagai satu bangsa yang merdeka dan berdaulat atas Negeri Aceh yang telah dianugerahkan Tuhan sebagai tanah tumpah darah bangsa Aceh.

5. Apa daya tarik Hasan di Tiro sehingga bergabung dengan Wali Nanggroe?

Seperti saya terangkan diatas. Pada masa itu saya merasa kecil dibandingkan dengan beliau mengingat beliau telah 25 tahun hidup senang di USA, telah berhasil dalam hidupnya dari segi pendidikan dan ekonomi, disamping mempunyai isteri yang cantik, sanggup mengorbankan segala-galanya untuk kembali ke rimba belantara Aceh, menyabung nyawa demi kemerdekaan Aceh dari belenggu penjajahan dan penindasan RI.

6. Bagaimana liku2 Teungku hingga tiba di Malaysia serta ke Sweden, siapa yang mengurus?

Saya berangkat dari Aceh bulan februari 1980, dengan sebuah boat kecil yang lebarnya hanya satu meter, panjang kira-kira 3-4 meter, dan mesin tempel dua buah yi. Enuron 15 HP dan sebuah lagi Suzuki 8 HP, dengan nakhodanya sdr. Shaiman Abdullah. Kami mengharungi Selat Melaka selama empat hari-tiga malam, tanpa air minum dan tanpa makanan, disebabkan oleh ombak besar dan galon air kami pecah dan makanan kami hanyut ditarik gelombang air laut. Dengan pertolongan Allah swt. kami selamat tiba di Malaysia pada pagi hari, dan begitu naik kepantai saya tidak merasakan yang saya sangat lemah.
Begitu gembiranya hati saya melompat kedarat dan begitu kaki saya menyentuh pasir pantai Malaysia, saya langsung jatuh terjerembab kembali. Dan saya tidak perlu tahu berapa lama saya tertidur diatas pasir pagi. Begitu terbangun saya masuk kehutan pohon-pohon kelapa dan mencari kelapa jatuh yang ada isinya cukup manis untuk diisap dan dimakan. Maklumlah sudah berapa hari kelaparan.

Di Malaysia saya bekerja di kebun memelihara ayam dan menjual telur ayam. Sementara itu saya mencari kontak dengan Wali Negara untuk menyampaikan laporan keadaan di Aceh. Setelah tiga bulan saya di Malaysia yi. bulan May 1980 saya mendapat berita Dr. Zubir telah syahid ditembak oleh TNI. Tidak berapa lam kemudian Dr. Mukhtar pun syahid menyusul Dr. Zubir. Hati saya sangat pilu merasakan kedua sahabat yang sangat saya kasihi telah pergi lebih dahulu meninggalkan saya.

Pada mulanya saya tidak mendapat kontak langsung dengan WN tetapi hanya kontak secara indirekt melalui Perwakilan di Singapura. Setelah beberapa bulan di Malaysia barulah saya mendapat sepucuk surat dari WN yang mengatakan beliau mendapat beberapa halangan sehingga beliau tidak dapat memenuhi janjinya.
Delapan bulan saya terkatung-katung di Malaysia, keadaan saya yang illegal (pendatang haram), tidak ada pasport, sangat berbahaya kalau-kalau saya ditangkap oleh polis Malaysia tentu segera dikirim kembali ke Indonesia dan langsung jatuh ketangan TNI. Olehkarena itu saya mengambil keputusan untuk mencari political asylum dan mencari jalan untuk berhubungan dengan UNHCR. Pada waktu itu belum ada seorangpun refugee dari Aceh. Tidak ada seorangpun di Malaysia waktu itu yang menunjukkan kepada saya untuk meminta perlindungan kepada UNHCR. Malah kepergian saya ke UNHCR ditentang habis-habisan oleh Malik Mahmud. Dan ia mengirim surat kepada Tengku WN utk menghalangi supaya saya tidak menghubungi UNHCR. Saya pergi kekantor UNHCR di KL dan meminta perlindungan mereka untuk mencarikan Negara ketiga yang ingin mengambil saya sebagai refugee. Saya tidak perlu bercerita banyak karena gambar saya rupanya telah ada pada mereka. yaitu gambar "Wanted" yang didalamnya termasuk gambar saya yang disuruh cari, tangkap hidup atau mati. Saya terus diterima sebagai refugee dan mengisi borang kemana mau pergi. Saya tidak memilih Sweden tetapi olehkarena pada waktu itu lebih mudah dan cepat bisa berangkat ke sana, disebabkan banyak refugee Vietnam yang pergi ke negara tersebut. Disamping itu pula saya mendengar bahwa Pemimpin-pemimpin OPM setahun lepas telah dihantar oleh UNCHR ke Sweden, maka saya pun menerima untuk dikirim ke sana.

7. Factor memilih Sweden?

Telah saya paparkan diatas.

8. Kegiatan Teungku di Sweden?

Begitu saya tiba di Sweden, saya langsung mencari kontak dengan Wali Negara, yang pada saat itu berada di Afrika. Setelah empat bulan saya di sini barulah Tengku Hasan di Tiro datang mengunjungi saya. Pada waktu itu saya tinggal di kampus perguruan tinggi di Uppsala sebab saya harus mempelajari bahasa Swedia dan mengambil ujian doktor asing yang akan bekerja di Sweden. Tengku WN tinggal bersama saya satu tahun lebih. Dengan modal beasiswa yang saya peroleh, kami berdua menghidupkan dan mengatur kembali GAM yang sudah sangat morat-marit. Jangankan untuk membeli perlengkapan militer, untuk biaya telefon dan transport saja susah. Setelah enam bulan saya di Sweden , saya memperoleh pekerjaan sebagai dokter Radiologi dibagian X-ray diagnostic.

Walaupun dengan beasiswa yang pas-pasan, tapi kami berhasil membiayai Malik Mahmud untuk datang ke Sweden dan menyusun kembali rencana dan strategi GAM selanjutnya. Disamping itu kami membuat hubungan diplomasi dengan Negara-negara yang telah merdeka dan maju dan juga dengan negara-negara yang sedang berjuang untuk merdeka. Nama-nama Negara-negara tersebut tidak dapat saya uraikan disini karena ini adalah rahasia diplomasi.

Kira-kira setahun kemudian menyusul ke Sweden Tengku Daud Husin, Yusuf Daud, Yuhasri Hasan, Dr. Zaini Abdullah, Zakaria Saman, Tengku Jalil Ismail, Syahbuddin, M. Djamil Amin, Syarif Usman, Usman Mahmud, TM. Ali dan Anwar Amin dan lain-lain. Disamping tugas sehari-hari saya sebagai dokter mengobati orang sakit, saya melaksanakan tugas-tugas perjuangan yang bertujuan untuk membebaskan bangsa Aceh dari belenggu penindasan Indonesia dan menegakkan kembali kedaulatan bangsa Aceh diatas dunia.

9. Pengalaman yang berkesan selama tinggal di Sweden?

Pengalaman yang sangat berkesan dalam hati saya semasa saya berada di pelabuhan Amsterdam menanti kapal untuk kembali ke Sweden. Saat itu hari sudah jam dua malam. Pelabuhan sudah sunyi karena penduduk tempatan telah kembali kerumahnya masing-masing. Terlintas dalam benak saya: "Saya sedang dalam perjalanan pulang......Eh..pulang kemana??? Pulang kerumah.....ke Sweden???... Tapi rumah saya..isteri saya...anak-anak saya tidak ada di Sweden. Eh..rumah saya??... Sweden,...itu bukan rumah saya, bukan kampung saya., bukan negeri saya.!" .Pikiran saya terbang melayang ke Aceh, ke isteri dan anak-anak saya. Telah tujuh tahun saya tidak berjumpa dengan mereka. Tak dapat saya bayangkan bagaimana rupa mereka, bagaimana kehidupan mereka, siapa yang memberi mereka makan? Saya bertemu kembali dengan isteri dan anak-anak saya setelah 8(delapan) tahun berpisah yi. 3 tahun dirimba dan setelah 5 tahun di Sweden. Mala anak saya yang bungsu semasa saya tinggalkan ia masih berumur tiga tahun, belum teringat bagaimana wajah ayahnya.

10. Bagaimana mendidik budaya dan bahasa Acheh untuk anak dan keluarga di negara yang ratusan mil dari Aceh?

Yang penting sekali adalah bahasa. Seperti peribahasa Melayu: "Bahasa adalah jiwa Bangsa". Contoh-contoh untuk ini sangat banyak. Lihat orang Cina. Dimanapun ia tinggal dipelosok dunia; orang Cina tetap berkommunikasi sesamanya dengan bahasa dan tulisan cina. Kemana saja ia pergi ia tetap membawa kebudayaan Cina. Demikian juga dengan orang Pakistan, kemana saja mereka pergi tetap dengan pakaian tradisinya. Semua bangsa di dunia ada ciri-ciri nya tersendiri. Hanya kita bangsa Aceh yang sudah tidak memperdulikan bahasa dan kebudayaan kita sendiri. Tidak mempunyai pendirian sendiri. Dan sudah ikut-ikutan meniru-niru kebudajaan Jawa. Baru sampai di Medan saja sudah tidak tahu lagi berbahasa Aceh. Saya lihat anak-anak kami yang lahir di Sweden dan di Australia lebih fasih berbahasa Aceh daripada anak-anak Aceh yang berada di Banda Aceh, apalagi yang berada di Medan atau di Jakarta sudah sama sekali tidak lagi memperdulikan bahasa ibunya dan bahasa nenek moyangnya. Inilah salah satu kelalaian generasi Aceh masa kini, dengan tidak lagi menggunakan bahasa ibunya secara aktif dalam percakapan dan tulisan, maka ia telah meninggalkan salahsatu identiti kebangsaannya yang sangat utama. Dengan meninggalkan identiti Aceh maka Aceh telah ditaklukkan tanpa perang. Korban darah dan jiwa yang telah diberikan oleh para syuhada Datu-datu kita dalam mempertahankan negeri Aceh untuk kita , telah kita abaikan begitu saja, tidak kita hargai sama sekali.

Kita harus menghidupkan kembali literatur-literatur Aceh; syair-syair Aceh harus kita majukan dan sayembarakan sehingga anak-anak kita merasa bangga akan kebudayaan nenek moyangnya dan kebangsaan Aceh tertanam didalam dirinya. Kami mengharap pada masa akan datang semua anak-anak keturunan Aceh diluar negeri dapat saling berhubungan dan kunjung mengunjungi. Serta kita adakan pertukaran pelajar bertingkat internasional . Kita buat sayembara-sayembara membacakan syair-syair Aceh secara bergilir di Sweden, di Australia, di USA, di Holland, di Norway, dst. Dan kita undang ahli-ahli syair dan seniman-seniwati dari tanah air.

Kami di Stockholm telah mendirikan sebuah "Meunasah Aceh ", disitu kami mendidik anak-anak kami mengaji al-quran, mempelajari bahasa Aceh, memperkenalkan budaya Acehdan kita tanamkan kejiwaan dan kebangsaan Aceh.

11. Sudah berapa jiwa orang Acheh yang tinggal atau meminta suaka politik di Sweden?

Sekarang Kira-kira 150 orang, dan banyak yang akan menyusul lagi.

12. Bagaimana Teungku melepaskan rindu keu Nanggroe Acheh Ada rencana pulang ke Acheh .

Melalui media tentang Aceh, berkommunikasi dengan saudara-saudara yang mengetahui tentang Aceh, berbincang hal-hal yang bersangkutan dengan Aceh, berkunjung ke negeri-negeri yang dekat dengan Aceh. Apa lagi sekarang sudah banyak beredar video kasset, DVD lagu2 Aceh yang menampilkan kampung halaman.
Tentu saja saya akan pulang ke Aceh kalau masih panjang umur, bila Aceh sudah Merdeka, Insya Allah.

13. Tantangan apa yang Teungku dapati sekarang di Sweden ?

Tidak ada masalah di Sweden, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung-junjung.

14. Bagaimana dengan status warga negara?

Warga negara yang saya rindukan adalah Warganegara Aceh. Status warganegara lain itu hanyalah sebagai surat jalan saja supaya bebas kita bergerak di dalam dunia ini. Ia tidak mempengaruhi darah Aceh saya .


15. Bagaimana Teungku mengamati konflik Aceh?

Dari kontak organisasi, dari media termasuk internet, tv, dll. dan melalui telefon.-

16. Tidak bisakah Acheh menerima otonomi dulu, kemudian berjuang untuk merdeka?

Otonomi itu bagi kami adalah barang basi. Saya heran bagaimana pemuka-pemuka Aceh masih sanggup membicarakan masalah otonomi, dan tidak jera-jera berulang kali ditipu oleh regim Jakarta. Mengapa kita tidak mau belajar dari kegagalan orang-orang tua kita terdahulu.

17. Andaikata Acheh lepas dari NKRI, bukankah ini lebih menyengsarakan rakyat Acheh karena segala sesuatu bisa diembargo? Pasok barang untuk kebutuhan rakyat Acheh masih melalui Medan?

Dari pertanyaan ini menunjukkan bahwa anda tidak begitu paham akan makna merdeka. Kalau Aceh merdeka maka kita tidak lagi bergantung kepada Indonesia. Semua import-export langsung dari Aceh . Pelabuhan-pelabuhan Aceh akan kita buka kepada dunia. Hasil-hasil bumi dan hasil tambang Aceh tidak lagi kita bagikan dengan Jakarta, tetapi kita bagikan sesama kita rakjat Aceh. Aceh cukup kaya, Kita tidak lebih miskin dari Brunai, tetapi sebaliknya lebih kaya. Kita akan sanggup memberikan subsidi kepada perumahan rakyat, pendidikan anak-anak kita dan kesejahteraan sosial seperti dinegara-negara maju. Orang Aceh tidaklah lebih bodoh daripada orang Jawa. Indonesia merdeka disebabkan karena ada Aceh, mengapa kita tidak memerdekakan diri kita sendiri.
Pelabuhan Pulo Rawa Langsa, Pelabuhan KruŽng Raya, LhŰk Seudu, dll akan menjadi pelabuhan-pelabuhan Internasional. Sabang akan berfungsi sebagai Singapura. Aceh akan berfungsi kembali sebagai dizaman Iskandarmuda menjadi pintu gerbang Selat Melaka dari segi ekonomi, militer dan politik Asia Tenggara. Mengapa kita harus takut dengan embargo RI kalau kita tidak ada lagi hubungan langsung dibawah RI.

18. Teungku ikut dalam pertemuan di Jenewa yang sudah beberapa kali berlangsung?

Saya hanya ikut dalam pertemuan Jenewa kali pertama.

19. Apa yang semestinya dilakukan rakyat Acheh ke depan?

Persatuan kebangsaan Aceh. Kita bangsa Aceh harus bekerjasama dan bersatu padu dalam menentang musuh-musuh kita dari luar, pada saat ini Republik Indonesia dengan īTNI nya. Kita harus mengenal siapa kawan, siapa lawan. Kita harus pandai memanfaatkan tenaga-tenaga ahli, cendekiawan Aceh didalam dan diluar negeri yang saat ini sudah banyak bertabur didunia Internasional. Kita harus membuat program dan strategi jangka pendek dan jangka panjang untuk melepaskan diri dari jajahan RI dan membuat persiapan untuk "Republik Aceh". Kalau kita bersatu padu dan bekerjasama, semua masalah ekonomi, politik dan militer dan diplomasi dapat kita atasi bersama. Saya heran mengapa orang Aceh dapat bergaul dengan bangsa-bangsa lain dengan mesra dan leluasa, termasuk dengan musuh endatu - RI, tetapi tidak dapat duduk bersama dengan bangsanya sendiri secara kekeluargaan dan membincangkan masalah hidup-mati dan masadepan bangsanya???


20. Bagaimana Teungku melihat penyelesaian Acheh melalui dialog dan militer?

Dialog sih memang baik, untuk menunjukkan kita ini orang bersivilisasi, berkebudayaan, berdemokrasi. Tetapi dialog kalau hanya menjalankan apa yang sudah didiktť dari Jakarta itu namanya bukan dialog. Jakarta maunya kita berdialog hanya dalam pembatasan "NAD" atau sebagai anak jajahan dengan tuan besar regim Jakarta. Ini bukan dialog dan tidak perlu dibuat di Jenewa. Ini memang akal licik dan tipu muslihat RI supaja masalah Aceh menjadi masalah dalam negeri Indonesia. Masalah Aceh bukan masalah dalam negeri Indonesia, tetapi masalah antara dua bangsa yaitu antara bangsa Aceh dengan bangsa Indonesia dan itu harus diselesaikan dalam dunia Internasional, tidak dapat diselesaikan dibawah ancaman militer Indonesia.

Konflik Aceh bukanlah konflik antara GAM dengan RI tetapi konflik antara rakyat Aceh dengan RI. Jadi dialog yang sekarang diadakan di Jenewa antara GAM dengan RI tidak akan menyelesaikan konflik Aceh. Yang harus dilakukan adalah dialog antara rakyat Aceh dengan regim RI. Jadi yang perlu diadakan adalah representative rakyat Aceh yang mewakili seluruh lapisan masyarakat Aceh yang dipilih secara musyawarah dan diterima oleh majority rakyat Aceh. RI memang sengaja memojokkan GAM dan mengecilkan masalah konflik Aceh sehingga kalau mereka telah dapat membasmi GAM atau mengibulinya maka konflik Aceh telah selesai. Jauh panggang dari api.

Indonesia ingin menyelesaikan masalah Aceh secara militer. Tapi ia lupa makin banyak ia membunuh dan memperkosa rakyat Aceh, dendam rakyat Aceh akan menjadi-jadi dan akan terhunjam dalam hati sanubari rakyat Aceh turun temurun. Apa yang telah dilakukan oleh TNI mulai tahun 1953 sampai saat ini tidak dapat dilupakan. RI telah meninggalkan hutang kepada orang Aceh yang harus dibayar dengan bunganya sekali bila tiba masanya. Insya Allah.

21. Mengapa Timor Lorosae lebih efektif dan sukses dalam perjuangan dibandingkan GAM

Masalah Timor banyak sekali perbedaannya dengan masalah Aceh.
al: 1. Pendudukan Indonesia atas Timor ditahun 1975 lebih baru dan lebih jelas dimata Internasional dibandingkan dengan pengelabuan Indonesia menjajah Aceh. Disamping itu Portugis yang melepaskan TImor sebagai anak jajahannya, membela Timor didalam dunia Internasional dan PBB. Sedangkan Belanda yang menjajah Aceh tidak membela Aceh, tetapi sebaliknya membela kepentingan Indonesia. Belanda mendapat banyak keuntungan dari Indonesia, antara lain, dari hasil pampasan perang, akibat dari hasil memasukkan Aceh kedalam Indonesia.
2. Timor beragama kristen dan banyak dibantu oleh persatuan- persatuan gereja, disebabkan oleh Indonesia merupakan majority Islam dan Timor adalah minoriti Kristen. Penindasan Indonesia terhadap Timor digambarkan sebagai penindasan majoriti Islam terhadap minoriti Kristen yang tentu saja menimbulkan kemarahan ummat Kristen sedunia. Sedangkan Aceh adalah 100% Islam. Perjuangan Aceh tidak menimbulkan simpati dunia kristen. Tidak pula dibantu oleh dunia Islam karena negara-negara yang penduduknya majoriti Islam banyak yang tidak mengenal Indonesia: mereka hanya mengetahui Indonesia adalah negera Islam yang terbesar di dunia dengan penduduknya 200 juta. Melawan Indonesia berarti meruntuhkan Islam. Mereka tidak paham bahwa Jakarta tidak kurang maksiatnya daripada Bangkok.
3. Meskipun ada fraksi-fraksi dalam TimTim, yang suatu ketika dulu pernah terjadi perang saudara, tetapi diluar negeri mereka tetap bekerja sama, tidak seperti ASNLF sekarang yang mendominasi terhadap komponen-komponen pejuang rakyat Aceh yang lain. Dan mereka tidak mau bekerja sama .

22. Saran Teungku kepada rakyat Aceh?

Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya sarankan kepada rakyat Aceh. Karena rakyat Aceh sudah sangat menderita. Melihat kekejaman TNI saya rasa rakyat Aceh sekarang tidak kurang menderitanya dibanding dengan masa penjajahan Belanda ataupun masa penjajahan Jepang. Merekalah yang paling menderita. Mereka telah memberikan apa yang mereka ada. Mereka telah menyumbangkan harta dan jiwanya dalam mempertahankan bumi persada tanah Aceh. Janganlah mereka diganggu lagi. Dengarlah jeritan dan raungan mereka dengan hati pilu, dan berikanlah apa yang mereka minta.

Kepada anak-anak mahasiswa: Ingatlah akan identitas dirimu sebagai putera-puteri Aceh. Negeri Aceh adalah milikmu yang harus engkau wariskan kepada anak cucumu dikemudian hari. Jagalah negerimu baik-baik dan ingatlah akan pengorbanan datu-datu bangsa Aceh yang telah mengorbankan jiwa-raganya demi mempertahankan negeri Aceh ini untukmu dari tangan-tangan penjajah asing. Pupuklah Persatuan Bangsa Aceh dan jangan sekali-kali mudah diadudombakan oleh Pang Tibang penjual negeri dan pengkhianat Bangsa. Engkaulah harapan bangsa Aceh sebagai generasi penerus untuk menegakkan marwah Aceh diatas dunia. Belajarlah dari kegagalan-kegagalan orang tua mu yang terdahulu. Jangan lupakan bahasa ibumu bahasa Aceh. Berbicara dan menulislah dengan bahasa Aceh sesama kamu sehingga bahasa Aceh hidup didalam hati sanubarimu, hidup sesamamu didalam masyarakat, dikampus dan dimana saja kamu berada. Sekali lagi "Bahasa adalah jiwa bangsa"

Kepada sarjana-sarjana Aceh: Saudara-saudaraku. Janganlah engkau membelakangi bangsamu. Kita bukan bangsa Indonesia tetapi dalam darahmu mengalir darah Aceh, bukan darah Indonesia. Janganlah tutup mata dan telingamu dari laungan jeritan dan penderitaan bangsamu. Luangkanlah sedikit waktu dan hartamu kepada perjuangan bangsa Aceh untuk menegakkan kembali marwah Aceh diatas dunia. Pimpinlah Saudara-saudaramu bangsa Aceh ke alam kemerdekaan dan kemuliaan.

Kepada Tengku-tengku dan Ulama: Peranan Tengku sangat penting didalam masyarakat Aceh. Dari sejak dahulu Ulamalah yang berjalan didepan memimpin perjuangan bangsa Aceh. Saya mengharapkan Tengku-tengku guru kami akan kembali mengambil alih kepemimpinan perjuangan ini. Dalam abad modern ini, dimana dunia telah menjadi kecil dengan canggihnya alat kommunikasi maka dayah-dayah harus diisi dengan ilmu politik, ilmu militer, ilmu ekonomi dll, sehingga kita dapat menelaah dan menjawab semua persoalan dunia dari segi Islam. Kita harus mempersiapkan diri untuk duduk dalam kancah dunia antara bangsa dan tidak ada masanya lagi untuk mengisolasikan diri. Lihat lah ulama-ulama pemimpin Iran.Mereka buka saja ahli dalam ilmu agama, tetapi mereka juga ahli-ahli politik, militer, ekonomi dsb.

Perbedaan GAM HT dengan MP GAM:

MPGAM adalah kumpulan senior-senior pejuang-pejuang AGAM(Angkatan Aceh Merdeka) yang berjuang untuk memerdekakan rakyat Aceh dari belenggu penjajahan Indonesia. Mendasarkan organisasi perjuangan kemerdekaan rakyat Aceh dengan asaz demokrasi dan musjawarah dan bekerjasama dengan seluruh lapisan masjarakat Aceh didalam dan diluar negeri Aceh. Singkatnya MPGAM berasal dari rakyat Aceh dan untuk rakyat Aceh. Kami tidak membenarkan pungli kepada rakyat jelata Aceh yang sudah cukup menderita dan miskin, tetapi berusaha mendekati pengusaha-pengusaha Aceh kelas "kakap", dll.

Sedang GAM HT: sebenarnya istilah ini tidak tepat karena GAM sekarang bukanlah lagi GAM HT tetapi GAM MZ (GAM Malik-Zaini), sebab Tengku HT tidak lagi aktif . Beliau sudah 3 tahun sakit dan tidak lagi dapat memimpin. Pernyataan-pernyataan HT selama 3(tiga) tahun ini hanyalah sandiwara MZ yang bermain dibelakang nama HT untuk mengelabui mata rakyat Aceh yang fanatik kepada HT. GAM MZ telah mengambil alih kekuasaan GAMHT untuk kepentingan golongan mereka sendiri dan tidak mau bekerjasama dengan fraksi pejuang-pejuang bangsa Aceh karena mereka takut kedudukan mereka akan terancam. Mereka giat berusaha untuk menjingkirkan orang-orang MPGAM karena ini dianggapnya saingan mereka, seperti pembunuhan terhadap Teuku Don dan Tengku Haji Usman Pasi Lhok, dan usaha-usaha pembunuhan terhadap diri saya, Tengku Daud Husin, dan pengikut-pengikut kami di Aceh. Mereka telah memfitnah kami kepada Henry Dunant supaya MPGAM tidak boleh lagi diikutsertakan di dalam perundingan-perundingan di Jenewa. Dan demikian pula pada waktu pertemuaan sare-keudroŽ-droŽ di USA mereka telah mengancam IFA untuk tidak hadir kalau MPGAM diundang. Mereka selalu menyekat dan menghadang kami dengan fitnah-fitnah yang pada akhirnya terbuka juga .

Demi kepentingan rakyat Aceh kedepan yang kami dambakan adalah Pertemuan kita sesama bangsa Aceh dimana semua wakil-wakil masyarakat Aceh diikutsertakan meskipun berbeda pendapat, disitu kita meruahkan pendapat kita masing-masing secara kekeluargaan, dalam alam demokrasi dan musyawarah, dan menyusun strategi bersama untuk masa depan bangsa Aceh dan keturunan kita dikemudian hari diatas dunia. Pertemuan ini tentu tidak diizinkan oleh RI tetapi ini dapat dilakukan secara rahasia diluar negeri tanpa setahu RI, insya Allah.


Stockholm, 25 April 2002.
dr. Husaini Hasan
(Sumber: wawancara Dr. Husaini dg Media Kutaraja)

Posted at 07:10 pm by Achehpasee

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry