Your Ad Here






   

<< March 2015 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31



Add text or HTML here


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed

Sunday, October 02, 2005
ANEH TAPI NYATA POHON ANGSANA TUMBANG BERDIRI KEMBALI

ANEH TAPI NYATA POHON ANGSANA TUMBANG BERDIRI KEMBALI

Aneh Tapi Nyata, Pohon Angsana Tumbang Berdiri Kembali

Langsa,( Analisa)

Sebatang pohon Angsana di Desa Pelawi Kemukiman Bugeng Kecamatan Nurussalam Kabupaten Aceh Timur, yang sudah sekitar satu bulan tumbang, Selasa (27/9) lalu menjelang subuh terlihat berdiri kembali seperti sediakala.

Dari informasi yang didapat Analisa, pohon Angsana dengan ciri khasnya daun rindang itu tumbuh di lokasi kuburan umum masyarakat Desa Pelawi. Sekitar satu bulan lalu akibat tidak mampu menahan angin yang bertiup kencang, pohon tersebut tumbang.

Masyarakat sekitarnya kemudian memotong dahan-dahan pohon tersebut untuk dijadikan sebagai kayu bakar.

Ketika pohon tersebut berdiri kembali di sampingnya masih terlihat cabang-cabang yang sudah dipotong belum sempat diambil empunya.

Kejadian aneh tersebut mem buat membuat warga sekitarnya menjadi heboh dan ramai-ramai berdatangan untuk melihatnya dari dekat, seakan tidak percaya.

Menurut Tgk Abdul Hadi, seorang guru ngaji di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, kejadian gaib itu bermula dari mimpi seorang murid tertua dari almahum Tgk Usman bin Hasyim yang tinggal di desa tetangga.

Dikatakan, Teuku Usman bin Hasyim merupakan tokoh kharismatik itu meninggal 20 tahun lalu dan makamnya selama ini selalu didatangi masyarakat untuk melepas nazar karena dianggap keramat. Jadi tidak perlu heran kalau makamnya ditutupi kain putih sepanjang 2,5 meter.

Dalam mimpinya itu, Tgk Usman bin Hasyim menyuruh warga Desa Pelawi untuk berdoa dan kenduri arwah di lokasi makamnya dekat pohon angsana yang tumbang tersebut.

Kemudian murid tertua Tgk Usman dimaksud memberitahukan mimpinya itu kepada Tgk H.Abdul Hadi dan kenduripun diadakan dengan memotong dua ekor kambing Selasa (26/9).

Namun kenduri dilaksanakan tidak di lokasi kuburan melainkan di tempat pengajian Tgk H.Abdul Hadi, yaitu Pesantren Miftahul Raudhah.

Usai melaksanakan wasiat tersebut pada malam harinya, Tgk Hadi bermimpi didatangi almarhum Tgk Usman bin Hasyim yang merupakan ayah kandungnya dan disuruh segera berdoa di makamnya.

Begitu terjaga dari mimpinya, Tgk H.Abdul Hadi melihat jam di tangan kanannya menunjukkan pukul 03.00 WIB dinihari. Karena takut lokasi kuburan agak jauh dengan rumah penduduk (sekitar 200 meter), ia tidak segera melaksanakan pesan mimpi itu, tapi menunggu hingga selesai shalat subuh.

Selanjutnya usai berdoa sesuai petunjuk dalam mimpi, terasa perutnya sakit dan ingin buang air besar.

Seperti biasa ia melihat jam tangannya, namun pada pagi itu ia lupa memakai. Karena ingin tahu pukul berapa, Hadi melihat ke arah timur, dengan membelakangi tempat berdoa tadi.

Seketika ia terkejut seraya menyebutkan “Subhanallah, ini kebesaran Allah yang diperlihatkan pada hambaNya”, ucapnya terkesima melihat pohon Ansana yang tumbang itu sudah berdiri kembali.

Kemudian ia memanggil seorang pemuda desa untuk mengambil tali dan memagari kuburan serta lokasi pohon aneh tersebut. Hal itu dilakukan agar masyarakat mengetahui, salah satu bukti kebesaran Allah.

Informasi tersebut langsung tersebar ke seluruh masyarakat setempat dan bahkan sampai ke daerah lain, sehingga banyak warga berdatangan ke lokasi.

“Menjelang bulan suci Ramadhan 1426 H ini, kita harus menyadari dengan adanya peristiwa aneh tapi nyata ini kita harus le- bih menyadari Allah itu telah memberikan teguran atas apa yang selama ini terjadi di muka bumi,” ujar Hadi. (dir)

Posted at 06:11 pm by Achehpasee
Make a comment  

Saturday, October 01, 2005
TERSIMPAN (DARI MANA DATANGNYA SELF GOVERNMENT)

DARI MANA DATANGNYA SELF GOVERNMENT?

Sumber : muda barona" mudabarona@yahoo.com X-Originating-IP: 66.163.179.172
Fri, 30 Sep 2005 17:53:52 -0700 (PDT)

Dari mana datangnya Self Government?
 
Scotlandia adalah negara yang paling letih memperjuangkan kemerdekaan. Medan perang Dunbar tahun 1296, Medan perang Stirling Bridge tahun 1297. Dalam perang inilah William Wallace menemui ajalnya setelah dihukum gantung oleh serdadu Inggeris di depan khalayak ramai. William dianggap pengkhianat oleh Inggeris, sebab raja Scotland telah menyerah kepada serdadu Inggeris, sementara William berperang atas nama rakyat Scotland biarpun sang Raja sudah menyerah. Sesudah itu perang kemerdekaan masih terjadi di medan perang Falkirk tahun 1298, medan perang Stirling Castle tahun 1304, medan perang Methven  tahun 1306 dan medan perang Bannockburn tahun 1318 hingga melahirkan decalaration Arbroath dan Treaty of Edinburg-Nothampton formulised peace between England and Scotland1328.
 
Dari sini, pada tahun 1600 dimulailah priode yang dinamakan 'rebuild of England', bendera persatuan sebagai bendera "Great Britain" untuk pertama sekali dikibarkan di atas geladak kapal Jack Mask of a Royal Naval Vessel tahun 1606. Kemudian Civil war meletus lagi di England dari kurun masa tahun 1642-1669. Scotland tidak pernah kehilangan akal, maka tahun 1512, Scotland meminta bantuan Prancis melawan Inggeris, sebagai imbalannya, kedua menanda tangani satu perjanjian yang disebut "Auld Alliance". Dalam perjanjian tersebut disepakati, bahwa seluruh bagaian Scotland dan sabagian dari Perancis merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan: Perjanjian ini tidak pernah diubah sampai tahun 1903. 
 
Sesudah segalanya menjadi arang dan abu, barulah tercapai era baru "commonwealth priod" tahun 1649-1660. Disini Inggeris memberi kuasa yang lebih kepada bangsa Scotland untuk mengibarkan benderanya, mengatur pajak negeri, hukum Pidana dan Hukum Perdata sedniri, bahkan kemudian bisa bertanding dalam Kejuaraan Sepak bola Dunia atas nama Scotland. Tetapi tidak dalam urusan: moniter, hubungan diplomasi dengan negara lain, fiskal dan ketertiban dan keamanan dalam negeri dan tentara.    
 
Tidak cukup dengan perang tersebut, sambung kembali dengan medan perang Dupplin Moor tahun 1332 dan medan perang Halidon Hill tahun 1333. Akhirnya, tamatlah hikayat Scotland dalam perang kemerdekaan lewat perang dan beralih kepada perang politik melalui arena demokrasi dengan cara mendidirikan partai lokal. Maka lahirlah Scottish National Party (SNP), Scottish Green Party - Environmentalist, Scottish Socialist Party (SSP), Scottish Independence Party, Scottish Enterprise Party yang asas partainya menuntut kemerdekaan Scotlandia (pro medeka), tapi semuanya terhempas dalam buaian demokrasi, politisi Scotland harus bertarung melawan partai yang berorientasi kepada 'pembangunan fisik' dan penjlat London. Para politisi menyikut demi kursi -kursi empuk- yang diidamkan kelompok opprtunist, mereka larut dalam dekapan demokrasi sampai sekarang tidak ada jawaban pasti tentang merdeka, walapun sudah ratusan berjuang memerdekakan Scotland melalui jalur demokrasi.
 
Pasti ada yang bilang ,Self Gevormen't untuk Acheh tidak sama dengan Self Gevormen;t Scotland,namun atas nama Self Gevormen't tetap tunduk kepada penjajah.
 
Akhirnya, barisan sakit hati, yang malu menyerah kepada Inggeris, dimanfaatkan oleh rezim London untuk pindah dari Scotland demikian juga dari Irlandia sebagai milisi rezim London ke New Zaeland, Australia dan USA. Milisi asal cotland dan Irlandia inilah yang membunuh bangsa asli Indian, Aborigin dan penduduk asli Slandia Baru. Bahkan kemudian, mereka, yang pada mulanya tunduk, akhirnya berkhianat juga kepada rezim London. Milisi asal Scotland dan Irlandia Di USA berjuang melawan konsep Konfederasi (baca: self government) yang untuk pertama sekali dilancarkan oleh Presiden USA, Jefferson Davis, 9 Februari 1861.  
 
Setahunn sebelumnya, 1860, Abraham Lincoln mengistikharkan "Government cannot endure permanent half slave, half free..." is elected president. Akhirnya berbuntut panjang: South Carolina menarik diri dari Union, dua bulan kemudian diikuti oleh Missisippi, Florida, Alabama, Georgia, Lousiania, Atlanta dan Texas.  Apa yang terjadi kemudian? Abraham Lincon yang disumpah sebagai Presiden, 12 April 1861 segera memanggil Gen. Pierre Beauregard untuk memerangi pihak yang benci Union (anti self government). Maka beletuslah civil war di USA 186-1865. Harga civil war ini 3000 jiwa mati dalam perang "Stars and Bars" April, 1861. Dan bersamaan dengan itu, 75.000 milisi dikerahkan menghancurkan orang yang anti self government.
 
Kepada State-state yang dianggap bandel dan bajingan ini, diberi coklat, diberi obat malaria, disantuni menjadi pegawai negeri, diberi keleluasaan dalam berbagai bidang asal jangan buat onar dan memasang duri, menggagalkan self government. Kalahlah state-state yang membangkang dan akur dengan konsep Konfederasi USA ssampai sekarang.
 
 Yang dilihat oleh Tengku Hasan di Tiro ketika bermukim di USA adalah pelaknasaan gelf government di USA setelah ratusan tahun berperang dan kemudian damai. Konsep Federasi (alias Self government) inilah yang ditawarkan Tengku Hasan di Tiro kepada Indonesia dalam tulisan beliau "DEMOKRASI UNTUK INDONESIA". Tapi, seperti sudah saya tulis dalam pendahuluan, konsep tersebut tidak cocok dengan Acheh. Acheh adalah negara merdeka dan berdaulat yang memiliki sejarah yang pasti-pasti, sementara state-state di USA adalah pendatang haram dari Scotland dan Irlandia yang duduk di USA.
 
Sadar akan hal itu, Tengku Hasan memproklamirkan Acheh tahun 1976, sudah membuang konsep Federasi.
 
Tiapa-tiap satu Bangsa untuk menuju merdeka berdasarkan sejarah.
Hilang sejarah,hilanglah kemerdekaan pada Bangsa tersebut.
 
Wassalam.
 
Muda Barona.

Posted at 06:35 pm by Achehpasee
Make a comment  

TERSIMPAN (AWAS, R I SEDANG MANUVER MENIPU ACEH SEPERTI ZAMAN DI/TII)

AWAS, R I SEDANG MANUVER MENIPU ACEH SEPERTI ZAMAN DI/TII





SURAT ALMARHUM

GEURAKAN ATJÈH MEURDÉHKA

(Utôm Perdjuangan Bansa Atjèh)

Pengumuman/Peringatan dari Majelis Pemerintahan GAM 16 Agustus 1999


AWAS, R I SEDANG MANUVER MENIPU ACEH SEPERTI ZAMAN DI/TII

Untuk yang kesekian kalinya dengan sangat pasti bangsa Aceh akan terjerumus dan tertipu lagi. Strategi tiga serampang yang sedang direncanakan dan pasti akan dilaksanakan RI untuk menyelamatkan Aceh supaya tidak terlepas dari genggamannya adalah satu proses yang sama dan serupa seperti dilakukan RI di zaman DI/TII dulu.

Kalau dalam “penyelesaian” DI/TII tokoh pejuang Aceh seperti Hasan Saleh dan kawan kawan menjadi pengkhianat menjual Aceh kepada RI, maka jangan heran dalam “penyelesaian” sekarang akan muncul pula “tokoh-tokoh” yang mengaku Aceh Merdeka mahupun Pembela Bangsa mengikuti jejak yang sama. Ini adalah peringatan, supaya bangsa Aceh nanti jangan terheran-heran bila melihat orang-orang yang mereka anggap pahlawan dan pembela bangsa sekarang ini sebenarnya tidak lebih dari calon calon penjual bumi dan rakyat Aceh kepada RI. Karena keberadaan “tokoh-tokoh” yang dimaksudkan ini adalah hasil dari program yang direncanakan oleh RI sendiri. Kalau GBPK diciptakan melalui TNI/Polrinya, maka “tokoh tokoh” lain dicipta memalui saluran politik sipilnya.

Strategi tiga serampang yang merangkumi, Amnesti Umum, pelaksanaan Syari'at Islam dan pemeberian Otonomi Luas tidak lebih hanya sebuah sandiwara lama yang dipentaskan kembali dengan aktor-aktor baru yang diciptanya sendiri.

Amnesti Umum RI kali ini bermaksud hanya untuk “mensucikan” tokoh tokoh provokator yang selama ini menjalankan tugas lapangan untuk kepentingan RI.Adalah mustahil Amnesti Umum ini dimaksudkan untuk GAM yang murni karena dalam kamus RI, GAM murni wajib dihapuskan. Menyapu bersih GAM murni tidak sepayah menyapu DI/TII, sebab di zaman DI dulu pimpinan tertinggi perjuangan Aceh ada di dalam negeri dan dihormati, bukan ditakuti.

Pelaksanaan Syari'at Islam yang dikhususkan untuk Aceh yang rakyatnya 100% Islam, walaupun bunyinya agak melucukan, akan menjadi senjata ampuh RI untuk mengelabui para ulama dan santri yang sangat ditakuti oleh RI dan mempunyai sejarah dan pengaruh sebagai pemimpin tradisi rakyat Aceh. RI menyadari bahwa Ulama dan santri Aceh, kalau bangun berjuang bisa bisa menghancurkan seluruh RI atas alasan ikatan keislaman antara Aceh dengan umat Islam diluar Aceh yang sudah terjalin rapat jauh sebelum lahirnya RI sendiri.

Pemberian Otonomi Luas yang direncanakan RI, sama saja dengan “pemberian” Daerah Istimewa di zaman DI/TII. Indah nama dari rupa, dan jangan lupa bahwa para intelektual politik keturunan Aceh menanti nanti “Otonomi Luas” ini. Bagaikan bulan jatuh keriba.

Kami percaya RI akan dengan mudah menutupi kesalahannya menjajah Aceh dengan manuver tiga serampang ini. Oleh karena itu, kami menyeru, menyeru supaya bangsa Aceh sadar bahwa hak masa depan Aceh bukan terletak ditangan tokoh-tokoh yang pasti akan menokohi kita, melainkan terletak ditangan kita sendiri. Hanya rakyat Aceh yang berhak menentukan masa depan Aceh karena bumi Aceh ini dulunya dengan pasti diserahkan hanya kepada rakyat oleh Tuanku Muhammad Daudsyah sebelum baginda menyerah diri kepada Belanda. Tokoh Aceh seperti Tengku Syik Di Tiro dan lain lain yang menerima mandat dari Sultan pada waktu itu semata mata hanya sebagai mewakili rakyat dalam situasi darurat.

Kami menyeru kepada tokoh tokoh intelektual berbangsa Aceh untuk tidak terlibat menokohi rakyat Aceh dalam perjuangan sekarang ini.

Kami menyeru kepada para alim ulama bangsa Aceh untuk mengimbas kembali sejarah lama tentang penipuan RI terhadap bangsa kita sehingga tipisnya Islam pada kebanyakan rakyat Aceh hari ini berpunca dari tipu daya RI.

Kami menyeru dan merayu kepada Ayah, Abang dan saudara saudara kami yang berbangsa Aceh dari kalangan intelektual, ulama, politikus, pengusaha dan sebagainya supaya memberikan peluang kepada rakyat Aceh untuk menentukan nasibnya sendiri dengan cara cara demokrasi yang diakui dunia internasional. Hanya rakyat Aceh yang bisa menentukan nasib masa depan Aceh dan hanya dengan memberikan hak penuh kepada rakyat satu satunya jalan penyelesaian tuntas masaalah Aceh.

Ingatlah, bahwa kebangkitan gerakan gerakan perjuangan di Aceh yang tidak pernah putus putus sejak zaman Belanda adalah berpunca dari kealpaan kita memberikan hak kepada rakyat menentukan nasibnya sendiri. Karena kita pikir rakyat bodoh dan kita pandai sehingga kita
bertindak sendiri memutuskan mengikut rasa hati kita dan kita lupa bahwa ada sebagian besar rakyat yang tidak setuju dengan keputusan kita sehingga kemudiannya mereka akan bangun menentang dengan bermacam cara termasuk angkat senjata seperti sekarang ini.

Awas, RI sedang manuver menipu bangsa Aceh entah untuk yang keberapa kali. Ingatlah !

Kami menolak Amnesti RI, Kami menolak Otomomi! Kami akan berjuang sampai mati, walaupun seratus tahun lagi, patah tumbuh hilang berganti. Kalau generasi kami sekarang dihabisi, pasti akan ada generasi baru melanjutkan perjuangan ini. Insja Allah.

Inilah isi hati kami, isi hati GAM murni. Terima kasih, Kru Seumangat !

Pengumuman/peringanatan ini kami keluarkan disaat-saat gentingnya situasi yang dihadapi bangsa Aceh melalui Sekjen kami untuk disebarkan ke seluruh pelusuk negeri dan dimana saja bangsa Aceh berada dengan harapan kita semua akan bersatu padu menentang Indonesia.


 

dto

Teuku Don Zulfahri
Sekjen GAM




TEUKU DON ZULFAHRI


----- Original Message -----
From: BP Penerangan-AM-n.. am_norway@hotmail.com
TO: ruseb@algonet.se nyala@swipnet.se kamarulzaman_1999@yahoo.com afdalgama@hotmail.com beuransah@hotmail.com lampohawe@yahoo.com agus_smur@hotbot.com cutzahara@usa.net bakhtiar11@hotmail.com tiro1@asean-mail.com walhi-aceh@aceh.wasantara.net.id universityofwarwick@yahoo.co.uk tertindas@yahoo.co.uk serambimekkah@egroups.com referendumfor-aceh@usa.net kongres@hotmail.com jafar_siddiq@yahoo.com forum_aceh@aceh.wasantara.net.id forumlsm@egroups.com cordova@aceh.wasantara.net.id ASNLF@aol.com love_aceh@yahoo.com nurdin_bna@yahoo.com ahmadluthfi@yahoo.com simpanglee@hotmail.com amirullah_ibrahim@email.mobil.com news@indosiar.com waspada@indosat.net.id wsp-bna@aceh.wasantara.net.id serambi@indomedia.com redaksionline@republika.co.id
CC: razalikek27@hotmail.com


Cc: Sent: Wednesday, May 31, 2000 4:18 PM


Subject: TANGKAP DON ZULFAHRI HIDUP ATAU MATI SEKJEN MP GAM /SEKJEN GAM DI TUTUP!


Setelah markas besar MB Gam Eropah yang terletak di Kampung Fitija, Norsborg, Swedia dibawah kelolaan Dr Hussaini Hasan Cs. dengan resminya ditutup pada hari Minggu 21 May, 2000 yang bertepatan dengan hari ulang tahun (pertama) penutupan resmi Rumah Pak Lurah Super Semar penjajah Indonesia-Jawa, Lek Harto Kleptocracy (si Pencuri) di Jakarta.


Maka kini menjadi giliran kedua tugas kita menutup "Kantor Sekjen MP Gam/Sekjen Gam", yang terletak diperkampungan India Tamil, di Brickfield, Kuala Lumpur, Malaysia di bawah kelolaan Don Zulfahri.

Penutupan ini berlaku surut: Minggu 21 May, 2000 disesuaikan dengan "hari bersejarah" seperti tersebut diatas.


Alasan rentetan penutupan:


A.Karena Kantor Markas Besar Gam Eropah yang dikelola oleh Dr Hussaini Hasan Cs. yang terletak di Kampung Fitija, Norsborg, Swedia dengan resminya telah ditutup pada hari Minggu 21 May,2000 sebagai Induk Sekjen MP Gam/Sekjen Gam .


B.Karena pengelola Kantor Sekjen MP Gam/Sekjen Gam, Don Zulfahri @ Habib Adam @ Habib Jahe @ Don Gigolo @ Don Lempap, telah dijatuhi hukuman tangkap hidup atau mati untuk diextradisi ke Mahkamah Medan Prang di Acheh.


Keputusan Makamah Medan Prang ini absentia ini telah dikeluarkan dan diumumkan oleh saudara Ismail Syahputra. Dan keputusan Makamah Medan Prang Acheh ini akan terus hidup dan berlaku sehingga tertangkapnya Don Zulfahri itu. Pengejaran terhadapnya sedang dilakukan. Kita akan cari dia walaupun dia lari kesebalik tembok besar negeri China atau masuk lham uruk kruengkong pasi lhok.


C.Karena Idris Mahmud @ Pak Wok si ex-"Formatur dan arsitek" Sekjen MP Gam/Sekjen Gam, telah melarikan diri jauh dari Semenanjung Malaysia.


D.Karena Teungku Hasan di Tiro, selaku Wali Negara Acheh,Sumatra telah memecat Pengelola MB Gam Eropah Dr Hussaini Hasan Cs. dan ex-"Formatur/arsitek Sekjen MP Gam/Sekjen Gam Idris Mahmud Cs.pada May,1999 dan beliau telah mengeluarkan pernyataan November, 1999 bahwa, Don Zulfahri pengelola Sekjen MP Gam/Sekjen Gam Kuala Lumpur sebagai agen intelijen tentara penjajah Indonesia-Jawa.


E.Karena Kantor Sekjen MP Gam/Sekjen Gam telah dijadikan pangkalan kedua ( relay station ) oleh MB Gam Eropah, Group kolaborator dan intelijen-intelijen penjajah Indonesia-jawa untuk menyebarkan fitnah jahat dan kotor terhadap AM dan perjuangannya.


F.Karena ASNLF tidak pernah mempunyai hubungan apapun dengan Sekjen MP Gam/Sekjen Gam, sebagaimana MB Gam Eropah, baik secara vertikal ataupun horizontal. MB Gam Eropah dan Sekjen MP Gam/Sekjen Gam dilihat seperti panggungnya ketoprak Jawa dalam ilusi. Pertanyaan timbul: 1.Apakah Induk Perjuangan mereka ? 2.Atas azas apakah dan struktur hieraki bagaimanakah sang"Formatur/arsitek`" yang telah empat belas tahun dilatih dalam penjara oleh penjajah Indonesia-Jawa sebagai tukang urut refleksologi, membentuk MB Gam Eropah dan Sekjen MP Gam/Sekjen Gam ?

G.Karena sebagaimana kehendak alasan-alasan kuat yang telah digunakan untuk menutup Markas Besar MB Gam Eropah, maka atas maksud dan tujuan yang sama telah digunakan untuk menutup Sekjen MP Gam/Sekjen Gam.


I.Karena kami telah mengambil langkah-langkah sekuriti untuk mempastikan semua pembaca internet atau sebaran lainnya tidak lagi menerima berita bohong yang provakatif jahat dan kotor dari mereka-mereka: Dr Hussaini Hasan Cs. dan Don Zulfahri Cs. dengan menyisipkan nama-nama ASNLF, AM, GAM, AGAM,MP GAM, dll. semacamnya dalam tulisan-tulisan mereka yang akan menguntungkan penjajah Indonesia-Jawa.


H.Karena kami telah menentukan bahwa pusat aliran keluar masuk berita ASNLF ke/diseluruh dunia, diluar Negara Acheh-Sumatra yang dapat dipercaya dan diterima hanya dari:


1. Bakhtiar Abdullah - Biro Penerangan ASNLF, Sweden,
2. Omar Puteh - Biro Penerangan ASNLF, Norway,
3. Yusra Habib Abdul Gani - Biro Penerangan ASNLF, Denmark,
4. Mussana Teungku Abdul Wahab - Biro Penerangan ASNLF, USA.


Omar Puteh,
Biro Penerangan ASNLF, Norway.

Posted at 05:46 pm by Achehpasee
Comments (2)  

TERSIMPAN (SETIA ITU: SIKAP MENTAL DAN KHIANAT ITU: KANKER MENTAL !)

SETIA ITU: SIKAP MENTAL DAN KHIANAT ITU: KANKER MENTAL !

Setelah menyimak apa yang saudara Yusra Habib Abdulgani paparkan kembali jiwa heroismeku mencuat yang telah lama hancur kukubur. Benar yang bang Yusra katakan  mengungkit orang yang telah tiada adalah tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang, lagi pula ketika beliau menghadap Allah SWT. tidak pernah berniat menjual negara dan bangsanya kepada Indonesia atau mengaku kedaulatan Indonesia seperti tuduhan mereka. Dari sini kita menyimak benang merah yang digunakan Omar Puteh untuk menjahit baju bang Yusra tidak akan pernah terjahit dan kalaupun terjahit tak akan pernah terpakai oleh bang Yusra yang mempunyai prinsip dan keteguhan baik dalam prilaku hidupnya maupun dalam menggeluti politik, tidak.... dan.... tidak...... akan pernah dipakainya. Lain hal saudara kita Umar puteh yang 100% berbali arah dari cita-cita semula yang setiap kali beliau ucapkan" tiada kata yang indah selain merdeka" dan sesiapa yang menentang dan  membalikkannya berarti mengkhianati dan pengkhianat adalah musuh bansa dan lebih tajam lagi sampai-sampai harus mengatakan  "Semua yang menentang cita-cita perjuangan bangsa Aceh adalah haram mendiami tanah Aceh sampai-sampai hukumnya adalah bunuh"
 
Kenapa saudara Umar Puteh dalam mengklarifikasikan tulisan Saudara Yusra harus memberi limit yang jauh. Sebagai contoh seorang di plomat dalam mengadakan suatu sidang tidak dapat menunda jawaban sampai esok, apa yang menjadi pertanyaan dalam waktu sekarang, harus dijawab segera menurut tuntutan, kalau menjawab esok mungkin juga basi atau orang telah membiarkannya berlalu. 
 
Ini menandakan saudara tidak siap dalam mengadu argument saudara.
 
Lalu kemana a`kidah yang selama ini telah menjamur dibenak patriot Aceh Merdeka seperti Omar Puteh apakah telah luluh lantak diterjang oleh tsunami tahun lalu. Atau ditelan abrasi 15 agustus di Helsinki. Juga kemana pemfitnah dan penjilat-penjilat yang ada dinegeri kaya minyak ini yang dulu dengan wajah bengis menghakimi bangsanya. Kenapa kini hilang tak bermaya redup ditelan MoU Helsinki.
 
Gerah rasanya melihat tingkah laku bangsa ini yang telah lama dijajah dan kembali mau di injak-injak sampai tak bermartabat. Yang lebih a`ib lagi musuh yang nyata-nyata dan tak pernah dikenalinya ditabatkan gelar" Tungku Ahmad Sudirman" dengan hanya menulis dua patah kata untuk Aceh lalu di sejajarkan pejuang-pejuang yang telah mengorbankan nyawa, darah dan hartanya dalam membela tanah nenek moyangnya. "Itu orang asing tau"....... 
Berbicara masalah kesetiaan bukan bermakna apa yang dititahkan penguasa harus selalu diikuti atau diekori, sebagai seorang yang pandai berpolitik seharusnya Omar Puteh pandai mengevaluasi apa yang menjadi tuntutan semasa, sekarang roda telah berputar tajam anda dan kelompok anda telah berada ditingkat yang paling bawah, ini adalah akibat dari kesalahan dan kekurangan dalam hal diplomasi, itu harus diakui. Disini terlihat anda tak pernah mengontrol peminpin anda atau memang suara anda tak pernah didengar oleh mereka.
 
Dari itu berhati-hatilah dalam memberi pendapat, kita  tak ingin tragedi berdarah di Aceh sesama bangsa akan terulang kembali.
 
Akan halnya pemfitnah dan penjilat sekarang telah habis kiprah saudara dan wajah yang kini loyo harus anda tunjukkan kepada bangsa Aceh, bahwa saya adalah sebetulnya pengkhianat dan harus berani di adili oleh mereka yang telah jadi korban atas propaganda anda. Mereka telah hilang nyawa, anak,orang tua dan harta benda sekedar hanya untuk menukar dengan" selv goverment" buatan beberapa orang yang tak mengenali Aceh sama sekali.
 
Mana itu yang anda katakan kita memberikan Indonesia itu ujung daripada pisau, sehingga dapat menusuk atau menikamnya dari belakang. Ternyata hanya bualan untuk mengelabui bangsa sendiri.
 
Sangat-sangat beruntung orang seperti bang Yusra jitu dalam melihat situasi, beliau langsung menarik langkah kekanan sehingga terhindar dari kesalahan sejarah seperti apa yang telah dilakukan oleh pang tibang Hasan Saleh yang menukar tanah Aceh dengan secerbis kebun teh di jawa barat.
 
So, apa bedanya sekarang dengan 75% janji muluk Indonesia atau dengan kebun jagung yang diberikan seumpama tranmigrasi, tapi transmigrasi di tanah sendiri. Itu......sama......tak berbeza........
 
 
 
Motto:  Nyawamu boleh gugur
           Jiwamu boleh hancur
           Tapi peliharalah iman dan perjuanganmu.
 
 
Bryne,28 sept 2005
 
 
Bukhari Raden
Sumber : bukharipasi66@yahoo.no
 

Posted at 01:57 am by Achehpasee
Make a comment  

Thursday, September 29, 2005
TERSIMPAN (GAM WILAYAH LINGE SANGAT HORMATI PERDAMAIAN )

GAM WILAYAH LINGE SANGAT HORMATI PERDAMAIAN


GAM Wilayah Linge Sangat Hormati Perdamaian

Takengon, (Analisa)

Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Linge, Aceh Tengah, Fauzan Azima dengan tegas menyatakan, pihaknya sangat menghormati perdamaian segera tercipta di Aceh.

Namun pihaknya menyayangkan setelah mengevaluasi selama 40 hari pelaksanaan nota kesepahaman antara pemerintah RI dan GAM, pihak Pemkab Aceh Tengah dan Bener Meriah dinilai belum ikhlas berdamai secara institusi.

Pernyataan tersebut dikatakan Fauzan Azima, dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (27/9) di salah satu lokasi di kawasan Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah.

Sikap GAM ini menurut lelaki yang paling dicari selama Darurat Militer (DM) di dataran tinggi Gayo itu, setelah dilakukannya pertemuan rapat anggota GAM Wilayah Linge yang dihadiri 500 orang personilnya.

Fauzan Azima menegaskan akan menyampaikan hasil rapat tersebut pada pihak Aceh Monitoring Mission (AMM) pada pertemuan pertama DiCOSA (Komisi Pemantau Keamanan Daerah), Sabtu (1/10) mendatang di ruang data kantor Setdakab Aceh Tengah.

Rencana pertemuan dua pihak yang bertikai dengan DiCOSA molor dari jadwal yang telah ditentukan, Rabu (28/9) karena muspida mengikuti rapat di Banda Aceh.

Menurut Fauzan, indikator ketidakikhlasan pemkab mulai terlihat setelah tujuh hari penandatanganan MoU di mana aparat keamanan di Aceh Tengah mengeluarkan selebaran provokatif tanpa melihat isi MoU secara keseluruhan (integral).

“Sebaiknya jangan mengutip MoU untuk memprovokasi masyarakat,” ujar Fauzan Azima.

KAMPANYE NEGATIF

Selain itu sebut dia, Pemkab Aceh Tengah dan Bener Meriah mengadakan kampanye-kampanye negatif yang merugikan pihak GAM.

“Salah satu bukti adanya kampanye negatif, ketika kami mencoba untuk berbaur dengan masyarakat, di mana oleh masyarakat langsung menolak kami. Mereka (masyarakat) menyatakan bahwa perdamaian kali ini sama dengan CoHA. Meski pun telah kami jelaskan mengenai butir-butir yang tertuang dalam MoU kami minta selain tuntutan merdeka. Beda dengan CoHA, dimana kami meminta merdeka. Namun pun demikian, masyarakat tetap belum bisa menerima kehadiran kami,” ujar lelaki bermata sipit namun rajin puasa ini.

Tindakan provokasi juga dilakukan oleh para milisi yang jumlahnya mencapai 10 ribu orang dengan melepaskan tembakan yang diiringi penaikan bendera GAM di dua tempat di saat kami mencoba berbaur dengan masyarakat.

Letusan senjata dan pengibaran bendera GAM di Kampung Blang Ara dan Kecamatan Bandar mengakibatkan pihak TNI/Polri punya alasan untuk melakukan penyisiran sehingga pihaknya merasa terpojok dan timbul kesalahpahaman seolah-olah perbuatan itu adalah ulah pihaknya.

Kepada pihak TNI/Polri juga telah dijelaskan bahwa tindakan penembakan dan pengibaran bendera GAM bukan pihaknya yang melakukan. Namun aparat pemerintah ini (istilah Fauzan bagi TNI/Polri) tidak ada tanggapan.

“Kami yakin pemkab mengetahui siapa yang berbuat dan mengacaukan proses perdamaian,” kata dia.

Fauzan Azima memberikan penjelasannya di salah satu kampung di Kecamatan Bukit Bener Meriah, Selasa (27/9) selama satu jam sejak pukul 14.20 WIB.

Panglima GAM Wilayah Linge ini turut didampingi beberapa orang anggotanya seperti Ibnu Saddan atau lebih dikenal dengan Sapu Arang (anggota Keuangan GAM yang terakhir turun gunung), Husni Abdul Jalil (perwakilan GAM saat JSC).

Husni direncanakan ikut kembali menjadi perwakilan GAM saat pertemuan dengan AMM Sabtu mendatang. Sementara Fauzan sendiri menyatakan pikir-pikir ikut dalam pertemuan itu.

Untuk perdamaian yang hakiki lanjut dia, diharap pemkab segera mensosialisasikan perdamaian secara benar hingga menyentuh masyarakat yang tinggal di pelosok-pelosok kampung.

Sedangkan menyangkut milisi, dalam waktu dekat pihaknya akan kembali melakukan pertemuan pers untuk membuktikan kebenaran adanya milisi yang dilatih dan diberikan senjata oleh TNI/Polri. Hanya saja anggota milisi yang akan memberikan pernyataan ini meminta perlindungan hukum.

Sementara menyangkut jumlah senjata yang akan diserahkan kepada pihak AMM, Fauzan Azima enggan menjawabnya.

Menurut dia yang lebih berkompeten menjawabnya adalah Tengku Sofyan Daud dan data-datanya telah diterima Bang Muzakir Manaf.

“Namun pun demikian hari ini saya akan mengirim lima pucuk senjata jenis AK-47 dan SS-1 ke Wilayah Pase,” sebutnya menjawab wartawan.

Di lain pihak, Dandim 0106 Aceh Tengah, Letkol Inf Heri Sapari yang dihubungi melalui via telepon, Rabu (28/9) menyatakan tidak mengetahui permasalahan tersebut karena belum memangku jabatan Dandim 0106 di Aceh Tengah.

“Saya dilantik sebagai Dandim 0106 tanggal 27 Agustus 2005,” sebut Heri Sapari.

MEMBANTAH

Sedangkan mantan Dandim 0106 Letkol Inf Yakraman Yagus yang sekarang dipercayakan sebagai Waaster Kodam Iskandar Muda (IM) yang dihubungi membantah memprovokasi masyarakat tujuh hari setelah penandatanganan MoU.

Namun diakuinya ada memberikan penyuluhan di Kecamatan Bandar, Bener Meriah dengan membagi-bagikan selebaran MoU itu sendiri. Karena MoU tersebut memang harus segera disosialisasikan ke tengah masyarakat sehingga diketahui.

“Sekali lagi saya katakan ini hanya trik Fauzan Azima memberikan pernyataan politik. Namun saya minta kalau ketemu kembali dengan Fauzan katakan jangan main-main memberikan pernyataan yang tidak benar,” kata Yakraman Yagus dengan nada sedikit berang.

Pernyataan Fauzan Azima juga kembali disangkal oleh Bupati Aceh Tengah yang diwakili Kabag Humas Setdakab, T Alaidinsyah SE, MM.

Menurutnya setiap kunjungan kerja bupati sampai ke pelosok kampung selalu mensosialisasikan MoU. Demikian juga dengan spanduk-spanduk banyak dipasang di tempat strategis.

Bahkan sebagai bukti satu spanduk yang masih dapat kita lihat terpasang di pagar Masjid Ruhama Takengon yang mengajak seruan perdamaian.

“Jadi menurut saya tidak benar pernyataan Fauzan bahwa pemkab tidak mensosialisasikan kesepakatan damai melalui MoU. Bahkan saya sendiri yang selalu mengikuti kunjungan bupati, beliau aktif mensosialisasikan perdamaian,” sebut T Aliansyah.

Menyangkut adanya milisi di Aceh Tengah dan Bener Meriah, salah seorang Wakil Ketua Front Perlawanan Rakyat Bener Meriah, Ir Sutrisno menjawab, di dua kabupaten ini tidak ada yang namanya milisi. Namun yang namanya perlawanan rakyat jumlahnya sangat banyak bahkan mencapai 30 ribu orang.

“Saya mengajak Fauzan Azima duduk bersama membicarakannya masalah ini. Jangan di belakang beri pernyataan yang tidak benar,” kata Sutrisno yang tengah berada di Medan-Sumut.

Menyangkut enam kali terdengar letusan senjata dan pengibaran bendera GAM di Kampung Blang Ara dan Kecamatan Bukit, Sutrisno justru kembali menuding itu semua ulah GAM. Sejak dulu GAM kerjanya seperti itu.

“Kalau GAM bisa menunjukkan bukti-bukti adanya milisi silahkan. Kami tetap menyatakan tidak ada milisi di sini. Saya khawatir milisi yang disebut-sebut GAM adalah anggotanya sendiri yang dipolitisir sebagai milisi,” ujar Sutrisno yang juga sangat mengharapkan proses perdamaian bisa berjalan dengan baik. (jd)

Sumber : Seulawah Agam "" merdeka_2007@yahoo.com X-Originating-IP: 66.163.178.96

Posted at 03:28 pm by Achehpasee
Comments (4)  

Tuesday, September 27, 2005
ACEH'S STRUGGLES CAPTURE JOURNALIST'S EYE AND AMM'S ROLE

ACEH'S STRUGGLES CAPTURE JOURNALIST'S EYE AND AMM'S ROLE

ceh's struggles capture journalist's eye


By John Colson
September 27, 2005



William Nessen, a 48-year old journalist-turned-filmmaker, emphasized that the film he is showing at this week's Aspen Filmfest is "a work in progress ... it's not completely done."

That said, Nessen went on to describe "The Black Road - Inside Aceh's Struggle for Independence" as already having absorbed four years of his life, landed him in prison and gotten him expelled twice from Indonesia.

His work on the film also has turned both him and his mother into celebrities in the archipelago nation, particularly when his mother, Hermine, visited Aceh to win her son's release from prison and became a daily presence on international television.

Aceh is a geographically small part of Indonesia, located at the tip of the island of Sumatra on the eastern reaches of the archipelago, east and south of Malaysia. But Aceh historically has been rich in petroleum and natural resources desired by other nations, first by western colonialists and later by the government of Indonesia itself. It is for this reason, among others, that Aceh has been the scene of a quarter-century of separatist struggles.

Nessen, whose parents own a home in Aspen, said he has been coming to the Roaring Fork Valley for much of his adult life, a connection that undoubtedly figured in the choice of his film for Filmfest this year.

But he has lived primarily outside the United States for some time, both in pursuit of his profession and because "I got tired of America ... I was curious about the rest of the world." When asked where his permanent home is, he replied, "My e-mail address is my permanent home," and invited people to e-mail him at
wanessen@yahoo.com if they want to chat.

A journalist by trade, Nessen was working as a freelance writer for a variety of publications in the 1990s, traveling to hot spots such as East Timor and Papua New Guinea. In 2000, he took some time off from reporting to get a master's degree in journalism.

Although trained as a writer, Nessen began taking film footage to back up some of the stories he was covering. At some point, "I realized I had enough that I could make a film out of it," he said by phone from his current home in western Australia.

Nessen readily conceded that he has made the transition from objective news reporter to the personal perspective of a filmmaker. But it's a change that happened inexorably, as he became more and more engrossed in his work living with guerilla bands of Acehnese.

"I tried to get both sides of the story," he said, adding that "to really understand people is to live with them, and experience what they are experiencing." It was his way of pursuing "the elusive thing called truth."

"The Black Road" recounts some of the historical background of the Aceh struggle for independence, including the partition of Indonesia by British and Dutch colonial forces in the 1800s and the ultimate Dutch takeover in 1873.

From that time until World War II, when the Japanese invaded, the Acehnese fought the Dutch occupiers persistently and bloodily.

According to the Web-based encyclopedia Wikipedia, it is believed that Islam first was introduced to Southeast Asia through Aceh in the eighth century. But the Acehnese form of Islam, according to Nessen, is much less strict and authoritarian than in other areas of the world. He said it is "much, much freer for women," for instance, than is the case in some Islamic states.

But the struggle for independence is "not about religion at all. It's about people who want to have their own country," he noted. The Indonesian government promised the Acehnese relative autonomy when Aceh became a province of the newly created Republic of Indonesia in 1949, but successive regimes interested in maintaining control of the province did not keep those promises.

The imposition of martial law in 2003 sparked the current struggle, according to Wikipedia. A 2005 peace agreement, signed at talks in Helsinki, Finland, and prompted in part by the devastation from the 2004 tsunami, has quieted the regional strife somewhat.

But according to Nessen, "the independence struggle is not over. The Acehnese still want independence."



"The Black Road - Inside Aceh's Struggle for Independence" will be screened at noon Friday, Sept. 30, at the Wheeler Opera House in Aspen as part of Aspen Filmfest, which runs Sept. 28 through Oct. 2 and features screenings in Aspen, Carbondale and Glenwood Springs.

For ticket information, visit aspenfilm.org; call the Wheeler Opera House, 920-5770; Sounds Easy video store in Carbondale, 963-1303; or Book Train in Glenwood Springs, 945-7045.


Sumber : http://www.aspentimes.com/article/20050927/NEWS/109270019

Posted at 10:39 pm by Achehpasee
Make a comment  

Audio Beuët

 Audio

 
Bismillahirrahmaanirrahiim 

  Assalaamu'alaikum
No. Surah Dengar Simpan Saiz Masa
1 al-Fatiha 1 1 1 MB 0' 54"
2a al-Baqarah (1/2) 1 1 6.1 MB 49' 57"
2b al-Baqarah (2/2) 1 1 6.3 MB 51' 59"
4a an-Nisaa' (1/2) 1 1 4.9 MB 40' 23"
4b an-Nisaa' (2/2) 1 1 4.9 MB 40' 00"
6 al-An`am 1 1 8 MB 65' 15"
18a Kahf (1/2) 1 1 1.4 MB  
18b Kahf (2/2) 1 1 1.0 MB  
31 Luqman 1 1 1.4 MB 11' 31"
32 as-Sajdah 1 1 1.0 MB 8' 24"
33 al-Ahzab 1 1 3.6 MB 29' 32"
34 Saba' 1 1 2.2 MB 18' 20"
35 Faatir 1 1 2.0 MB 17' 00"
36 YaaSiin 1 1 1.9 MB 16' 00"
37 as-Saaffaat 1 1 2.5 MB 20' 43"
38 Saad 1 1 2.0 MB 16' 18"
39 az-Zumar 1 1 2.8 MB 23' 34"
40 Ghaafir 1 1 2.9 MB 24' 05"
41 Fussilat 1 1 1.9 MB 16' 08"
78 an-Naba' 1 1 0.5 MB 4' 30"
79 an-Naazi'aat 1 1 0.5 MB 4' 12"
80 `Abasa 1 1 0.4 MB 3' 16"
81 at-Takweer 1 1 0.3 MB 2' 23"
82 al-Infitaar 1 1 0.2 MB 1' 53"
83 al-Mutaffifeen 1 1 0.5 MB 4' 4"
84 al-Inshiqaaq 1 1 0.3 MB 2' 24"
85 al-Buruj 1 1 0.3 MB 2' 27"
86 at-Taariq 1 1 0.2 MB 1' 27"
87 al-A`laa 1 1 0.2 MB 1' 38"

Radio Qur'an


 Wassalaamu'alaikum 

Posted at 03:54 pm by Achehpasee
Make a comment  

Monday, September 26, 2005
KEUSADARAN PEURDJUANGAN & MEUNANGGROE BANSA ATJEH

KEUSADARAN PEURDJUANGAN & MEUNANGGROE BANSA ATJEH
 

Puteh Sarong, United Kingdom

 

Assalamualaikum wrt. Wbt.

Njoe email njoe puereule lon tuan tuleh supaja mandum geutanjoe djeut taseumike atawa tatilek droe teuh keudroe oh na peungeutahuan ngon keuseudaran geutanjoe Bansa Atjeh mandum

 

Meunjoe tadeungo tjara seumike ngon peugah haba seubahagian Bansa Atjeh di lua nanggroe deungon ureung atawa bansa laen, sang djeut tatjok keusimpulan njoe keuh antara sabab Bansa Atjeh njoe trep that bak meudeka atawa sabe djidjadjah atawa sabe djipeubangai lek peundjadjah kaphe laknat hindunesia djawa njang seumah beurhala garuda pantjasila. Atawa pikeran ureung njang lagee njoe memang hana tom mupekeran njang meurdheka siumu hudep.

 

Pue tjonto djih antara njang lo-lo tjonto laen:

 

1. Meunjoe djitanjong lek ureung Meulaju miseu djih di Meulaja atawa di Singapor, Awak asal dari mana? atawa Awak orang apa?. Njan bagah-bagah djaweub hana meudjiseumike pih mubatjut deungon djeunaweub Saya dari indonesia! atawa Saya orang indonesia!.

 

2. Meunan tjit meunjoe djitanjong lek awak puteh, Where are you from?. Njan bagah-bagah djaweub dan hana seumike sjit pue akibat djih deungon djeunaweub I am Indonesia indonesian!. Mantong mupikeran seubagoe lamiet hindunesia djawa.

 

Pakon han tapeugah atawa tadjaweub droe teuh deungon rasa bangga Saya orang Aceh, atawa Saya Bangsa Aceh, atawa I am Achehnese. Meunjoe hana meuphom watee tapeugah geutanjoe droe teuh ureng Atjeh, njan baro tapeutrang pat Atjeh njan. Meunjoe hana muphom diureung njan tjit, njan baro tatjeurita batjut seudjarah Atjeh. Njoe kon bangga kon le peugah droe lamiet endonesia.

 

3. Njang leubeh brat lom bak tadeungo, na njang djak peusa droe meungaku droe awak endonesia sjit. Watee na saboh atjara bak Universiti Kebangsaan Malaysia. Watee njan na geulangkah u Meulaja Allahyarham Teungku Sofyan Ibrahim Tiba. Djadi lheuh atjara kakeuh rakan-rakan djak pakat padjoh bu tjot uroe bak warong bu di Bandar Baru Bangi. Bak duek-duek bak medja, troh aneuk miet keuridja bak warong njan djitanjong pue keuneuk padjoh? Na sidroe rakan geutanjoe, ka djak tanjong. Kamu asal dari mana? Aneuk njan pih djidjaweub Dari endonesia!. Lhoeh djidajweub njan, di rakan geutanjoe njan pih ka djak meungaku droe Ooooo saya dari endonesia jugak!. Kamoe rap mutah meuh bak meudeungo. Na sidroe rakan laen djikheun Hana meupue peugah

 

4. Laen lagee lom Bansa geutanjoe njang hana rasa meunanggroe. Njan meunjoe peugot homepage atawa teumuleh beurangkapue lam internet miseu djih njang seubeunardjih hana hubongan sapue ngon endonesia njan (http://www.acehkids.org/). Tapih mantong bangga seubot lom nan peundjadjah ngon bahasa peundjadjah lam website njan. Pakon han tapeudjioh keudeh sibarangkapue njang na meuseubot peundjadjah laknat njan. Miseu djih na tapeudong sikula atawa balee, atawa dajah keu aneuk miet Bansa Atjeh njang djeut keu keureubeun keubiadaban si-pai atawa musibah tsunami. Tamita sumbangan, tamita ladju. Njan djroh. Pikeran Bansa Atjeh beudjeureuneh, bek meutjawo-tjawo ngon peundjadjah njan. Peundjadjah njan musoh geutanjoe. Maka djih sabe lon tuan tuleh lam email, meunjoe takirem surat dari lua nanggroe atawa dari nanggroe u lua pih, di mujueb alamat bek le tadjak tuleh nan hindunesia njan. Sep oh tatuleh, tjonto djih: PUTEH SARONG, JALAN SIRIBEE DAJA NO. 45, KEUDE GEUREUBAK, LANGSA, ATJEH TIMU, SUMATRA. Nan Atjeh ngon Sumatra mantong kasep djituri lek ureung man saboh donja. Bek tadjak meungaku droe teuh seubagoe lamiet djawa. Koh hubongan ngon kaphe laknat hindunesia djawa njan. Beuna seuntimen sabab kaphe laknat hindunesia djawa biadab njan nakeuh musoh Bansa geutanjoe. Kaphe laknat hindunesia djawa njan troh u nanggroe geutanjoe kon untok djidjak bangun nanggroe geutanjoe, tapi djineuk djak meurampok ngon djipeureuloh nanggroe ngon Bansa geutanjoe.

 

Ladom pih lan teuh bak tadeungo. Miseu djih tadjak u rumoh sidroe rakan, rakan njan baro woe. Tatanjong, pane ban? Tadeungo djeunaweub “Alaaaah, ituuuuu ada pengajian ibuk-ibuk endonesia. Kami diundang oleh ibuk-ibuk endonesia. Ada penceramah datang dari Kedutaan endonesia. Pengajiannya sekalian dengan arisan ibuk-ibuk di sini” Njoe lagee-lagee njoe pih sep mutah teuh bak tadeungo. Han ubah-ubah gadoh meulawok-lawok ngon endon djawa njan. Njan djak bak arisan njan kon deungo tjeuramah, gadoh khem abah ube-be plok susu. Djeh peuntjeuramah endon peugah haba! Peuntjeuramah porno lagee “K. H. Zainuddin MZ”! Hana maruah.

 

Bansa Atjeh njang na di lua nanggroe peudjioh droe keudeh bak meulawok-lawok ngon lamiet beulanda njan. Njan musoh geutanjoe njang hana seunang djih menjoe Bansa Atjeh meurdheka lheuh dari kaphe laknat peundjadjah hindunesia djawa njan. Leuebeh got taikot peursatuan-persatuan ureung Iseulam njan laen. Ureung Arab, Libanon, Turki, Afganistan, Eritrea, matjam-matjam bansa laen di lua nanggroe. Djeut sjit tameuruno bahasa laen atawa hana tadjak meututo bahasa endon. Paleng kureung tameututo Bahasa Inggreh.

 

5. Na tjit laen tjonto njang kadang-kadang mubron-bron tjit lam pruet teuh. Hek teuh digeutanjoe tateumuleh sare-sare Bansa Atjeh dalam Bahasa Atjeh, di rakan njan gadoh djaweub lam bahasa endonesia njan. Njan pih hana sep ngon bahasa endonesia njang meutuleh lam buku, peuguna lom bahasa endonesia njang meueksen batjut. Njak takheun droe neuh njan meukota hai. Tjonto djih na peuguna kata-kata nggak, sih, dong  dan matjam-matjam njang laen njang hantom meutadeungo pih bak Nek Tu teuh di nanggroe.

 

6. Njang ladom baro leupah et Besitang, njang ka handjeut meu Bahasa Atjeh pih le, atawa meunjoe tapakat peugah Bahasa Atjeh sare-sare Bansa Atjeh njan ka rasa malee atawa hana madju hai bak pandangan droe neuh njan. Dak djidjaweub pih deungon loghat Besitang batju, liiikkkk tjangguuukkkk jup bruuuuuk. Han ek meutadeungo ngon takalon pih. Mutah teuh!

 

7. Na tjhiet njang takalon saboh matjam di lua nanggroe, njang inong ka sok badje, ok meugeureubang lagee hantu laot, ngon tjet ukee kalage Kulutok Siam. Njang agam na njang ngon sileuweu puntong lagee si apek tjina angkot ek bui siram bak gutjai. Na boh rante atawa dhak lom bak takue lage asei djaga lampoh soh. Njang ladom ma atawa ajah kalon aneuk lagee njan hana teugah sapue, bangga lom njak djikalon lek ureung laen aneuk droe neuh njan ka madju hai takheun di lua nanggroe. Ureung laen hana lage aneuk droe neuh njan takheun hai. Ek ngon iek tjit ka hana rhah le. Tjok keurutah sampoh, ka lagee sangkilat. Njoe mandum tanggong djaweub geutanjoe untok tapeuingat keulai untok woe bak djalan njang beutoi, bek sisat lam kulam ek.

 

8. Ladom di lua nanggroe miseu djih na tjit njang seubahagian kon mandum, njang djak keuridja bak pabrek. Njang golongan njang lagee njoe awak Meulaja kheun Si Minah Karan. Watee troh u Meulaja peugah ladju bak ureung laen, droe neuh njan ka djipeusan lek peugawe bak Depnaker endonesia, njan meunjoe troh u Meulaja bek meungon-meungon ngon awak AM (Atjeh Meurdheka). Sabab awak AM njan brok lah djipeugah lek peugawe si-pai di Depnaker njan. Meungonlah ngon si inem djawa. Watee abeh keuridja bak pabrek, malam djak mita peng tamah, buka pabrek lage si inem djawa njang laen. Njoe tjeurita sidroe rakan di Meulaja. Rupa djih djiteupue lek aneuk miet Atjeh njang na di Kuala Lumpur njang dokhat batjut. Djidjak ladju djak mita ureung njang uroh pabrek, ibu ayam kheun awak Meulaja, njan. Peusan ladju malam njan si minah karan njang peugah droe asai dari Atjeh njang ka ikot peurangeui si inem djawa. Bak malam njan me ladju keudeh u arah Sunway. Troh bak teungoh djalan njang glap djipeupura-pura mate moto lam seupot-seupeut. Teuma baro djitanjong ngon loghat Malaya  bak si minah karan njan, Awak dari Mane?. Djaweub si minah karan, Dari endonesia!. Djtanjong lom, Di endon, di mane?. Djaweub lom si minah karan, Dari Aceh bang!. Njan baro djiek darah seuum ureung njang tanjong njan. Afitson/balsem tjap rimueng tjit kadjiseudia. Djitjok ladju djiboh ladju bak apam ngon babah si minah karan njan. Djiteubiet ladju……ladju..Bahasa Atjeh si agam njan. Kalet ma keuh, kadjak keunoe kapeugah djpeuingat lek peugawe si-pai han djibri meungon ngon awak AM, awak AM njan ureung brok, ureung djeuheut. Kadjak keunoe kapeugah kadjak keuridja bak kilang hideh di gampong. Rupa djih kadjak keunoe kadjak peumalee Bansa Atjeh, kadjak publoe apam keuh, kadjak pubrok maruah Bansa Atjeh. Matjam-matjam djiteubiet ladju lam abah si agam njan. Oh lheuh njan dibuka pinto moto djijue tron si minah karan njan djitinggai lam seupot di sinan. Aleh pakriban djigisa u rumoh djih wallahualam. Sabab rakan lon hana djitjeurita baih njan. Meukeusud lon di sinoe geutanjoe Bansa Atjeh mandum puereule djaga maruah Bansa. Bek tadjak pubrok bansa droe teuh. Bek tadjak ikot budaja brok njang ka djime lek kaphe peundjadjah hindunesia djawa lamiet beulanda u nanggroe geutanjoe.

 

9. Na tjit watee djiinterview lek wartawan. Tjonto djih Kenapa tinggal di sini di Swedia?. Ladju na njang djaweub Yaaaaaaaaaaaaa (meugaja endon batjut), karena konflik Aceh pak! Sebab suami saya dituduh GAM. Dulu kami tinggal di Malaysia, sebab tidak ada dokumen (njoe pih meugaja endon bak peugah haba), jadi kami mohon kepada UN untuk pergi ke Negara lain pak. Jadi kami dikirim ke sini pak!. Oh lheuh njan djitanjong lom lek wartawan njan, bagaimana masih ada keinginan untuk pulang ke kampung ke Atjeh? Njan sira klik meueut-eut ladju djaweub wartawan njan njang kon-kon. Aleh pue seudeh that-that bak lon deungo bak real player njan. Di ulon tuan pih hana muphom.

http://www2.rnw.nl/rnw/id/spesial/dialog/aceh_merantau_050916?view=Standard

 

Njoe kalagee lon deungo tjeurita sidroe rakan di lua nanggroe bak siuroe hana djidjak seumajang Djeumeuat. Watee tatanjong pakon hana neudjak seumajang Djeumeuat uroe njoe? Djaweub rakan njan “Uroe njoe bapak awak inong meninggai di gampong. Awak inong sidroe djih di reumoh, seudeh that. Djadi kakeuh handjeut lon djak seumajang Djeumeuat, handjeut lon tinggai ureung inong sidroe di rumoh”.

 

Seupatot djih digeutanjoe, maken tateurimong beurita di nanggroe njang lagee njan, maken hana tinggai seumajang Djuemeuat. Tadjak seumajang Djeumeuat, taseumajang rhaib di meuseudjid, tameudoa di meuseudjid tapeutroh keu ureung njang ka geutinggai geutanjoe. Kon tadjak tinggai seumajang-seumajang Djeumeuat teuh.

 

Meunan tjit ngon awak inong dalam tjonto di Swedia di ateuh. Pakon han tadjaweub beutrang ngon lantang keudeh, miseu djih. Saya sampai di sini sebab suami saya adalah salah seorang pejuang GAM. Di Aceh suami saya dicari-cari untuk dibunuh oleh TNI/POLRI. Jadi kami cari jalan untuk sementara ini menghindari dari kekejaman TNI/POLRI dan insjaAllah kami akan kembali ke Aceh sebab itu negeri kami dan tanah air kami. Hana pajah tadjak klik keudeh.

 

Djadi bek tadjak peugah suami saya dituduh GAM. Meunjoe tapeugah lagee njoe sang-sang geutanjoe keudroe hana seunang teuh keu GAM njan. Sang-sang soe-soe njang djituduh GAM lek kaphe hindunesia djawa njan nakeuh ureung brok. Meunjoe lage njoe tjara tadjaweub, ka sa geutanjoe lagee si minah karan di Meulaja.

 

10. Na sjit saboh website dalam blogdrive ( http://achehnese.blogdrive.com/ ) njang tuleh atawa peuteubiet tjeurita meugamba njang hana pike panjang. Lon tuan hana that djeulaih pue keuh website njoe nakeuh website njang djipeugot lek aneuk Atjeh njang na pikeran peurdjuangan untok meurdheka dari kaphe laknat peundjadjah hindunesia djawa. Na lam website njan tjeurita meugamba meungeunai aneuk inong Atjeh njang teungoh meutjom ngon seudadu kaphe hindunesia djawa njang kadjipitjrok dari dari Nanggroe Atjeh teungoh djineuk ek kapai djineuk woe keudeh u tanoh maksiet djawa. Hana that djeulaih bak lon tuan, pue keuh beutoi njang meutjom njan aneuk inong Atjeh, atawa si inem djawa njang tinggai di daerah Krueng Geukuh. Tateupue lek geutanjoe di sinan daerah Blang Tuphat, Krueng Geukuh, Blang Rungkom njan lo that keuturunan kaphe laknat njan njang hudep lam budaja asei. Keuturunan kaphe njan awai lo that djikirem keunan daerah njan untuk keuridja bak projek PT. Arun, PT. PIM, PT. AAF, PT. KKA sebagoe tjara untuk djihalang Bansa Atjeh bak meutumee keuridja di dalam mandum projek njan.

 

Atawa njan saboh drama njang djipeugot lek kaphe laknat hindunesia djawa njan untok djipeumalee Bansa Atjeh. Njak djikalon lek ureung lua, bahwasadjih geuneurasi Atjeh njan hana le malee bahthat pih djimeumukah dikeu ureung ramee. Njan suai djitop ulee, njan djimeudrama lagee si inem djamu gendong megawati watee djidjak u Atjeh djipura-pura top ulee djipeungeut Bansa Atjeh. Oh lheuh njan djisok rok puntong keudroe djih. Atawa drama njan djipeugot lek kaphe laknat hindunesia djawa njan untok djipeuleumah bak ureung ramee bahasadjih Bansa Atjeh hana beungeh geuh keu seudadu kaphe laknat hindunesia djawa njan. Aneuk-aneuk inong geug guerdon keu seudadu laknat njan.

 

Bagi geutanjoe Bansa Atjeh, meunjoe tjit beutoi njang meutjom ngon seudadu kaphe laknat hindunesia djawa njan beutoi aneuk inong Atjeh. Geutanjoe wadjeb tatuleh tapeugah bak mandum Bansa Atjeh, bahawa geutanjoe Bansa Atjeh wadjeb taprang kaphe laknat peundjadjah hindunesia djawa paleh njan dari nanggroe Atjeh. Meunjoe han taprang kaphe laknat peundjadjah hindunesia djawa njan dari nanggroe geutanjoe, maka kaphe laknat peundjadjah hindunesia djawa njan akan djipeurusak Bansa geutanjoe ngon matjam-matjam budaja maksiet njang djimee lek kaphe laknat hindunesia djawa njan u nanggroe geutanjoe.

 

Kon tadjak petubiet lam website pue njang tatume lam beurita koran. Seuakan-akan digeutanjoe pih galak teuh taprok-prok djaroe Bansa Atjeh ka reulhoh, atawa digeutanjoe pih djeut keutokang suet sileuweu droe teuh tadjak peulumah malee/meunalee droe teuh. Meunjoe beutoi njan peugot buet maksiet njan aneuk Atjeh, mungken patot djak mita si inong njan, tjaeng beudjeut keu sie dua-dua euntji. Ka djidjak peumalee Bansa Atjeh. Patot beudjiteupue lek si inong paleh njan, njan seudadu kaphe njan tokang elanja, poh, tjeumutjue, tokang me maksiet di Nanngroe Atjeh.

 

Meunan tjit na tjonto laen, na rakan geutanjoe Bansa Atjeh njang djak tipek atawa djak peuteubiet gamba lukesan Tjut Njak Dhien lam buku atawa keulende, njang hana teutop ulee atawa teutop aurat. Njoe lukisan njoe nakeuh lukisan njang djipeuteubiet lek kaphe laknat hindunesia djawa njang djiikot kaphe beulanda untuk peumalee Mujahidah geutanjoe Tjut Njak Dhien. Padahai sampoi oh djidrop droe neuh njan djiba u Sumedang lek kaphe beulanda, Tjut Njak Dhien mantong geutop ulee geuh ngon idja sawak panjang. Geutanjoe Bansa Atjeh bek tapubuet beurangkapue hana taseumike njang djroh. Meunjoe lagee njan kakeuh tapateh na ‘pahlawan’ gadjahmada. Padahai njan gamba batee njang djipeuna-peuna lek kaphe hindunesia djawa untok djipeungeut geutanjoe. Meunan sjit kaphe laknat hindunesia djawa djpeugah na pahlawan djih R. A. Kartini. Padahai “njonja meneer” njan kulutok djawa njang sabe pubuet maksiet ngon seudadu beulanda bak masa njan.

 

11. Na sjit email njang kirem email lam email lon tuan beurita ngon gamba njang sa-sa maulang-ulang. Lon djeut lon tuan batja bahwasadih niet djikirem njan kon niet njang ikheulaih, teutapi niet untok peupap haba atawa niet brok galak meudawa sare-sare keudroe-droe Bansa Atjeh.

 

Lon tuan lake bak mandum Bansa Atjeh peudjioh sipheut mupake saree keudroe-droe. Pike pue njang djroh keu Bansa Atjeh u masa ukeu. Peurdjuangan Bansa Atjeh masa djinoe kon keu peudjuang njan, tapi keu geuneurasi Atjeh masa ukeu.

 

Oh noe dilee dan tji seumike.

 

Wassalam.

 

TANJOE BANSA ACEH BEUNA KEUSEUDARAN PEURDJUANGAN & MEUNANGGROE - NANGGROE ATJEH PUSAKA ENDATU, KON NAD NJANG DJIBOH NAN LEK KAPHE LAKNAT HINDUNESIA DJAWA NJAN



PUTEH SARONG
Coventry
CV4 7AL
United Kingdom
Fax: +44/0 24 765242250
"BEBASKAN NEGERI DAN BANGSA ACEH DARI KEBIADABAN DAN KEZALIMAN GEROMBOLAN KAFIR LAKNAT PENJAJAH HINDUNESIA JAWA PENYEMBAH BERHALA GARUDA PANCASILA."
Sumber : "warwick aceh"  universityofwarwick@yahoo.co.uk

 

Posted at 12:08 am by Achehpasee
Make a comment  

Sunday, September 25, 2005
TERSIMPAN (KOALISI NGO HAM ACEH)

KOALISI NGO HAM ACEH
 

KASUS YANG BELUM DIUSUT
Jaffar Siddiq Hamzah ?

Akhirnya berita duka itu datang juga. Jafar Siddiq Hamzah tewas. Kepastian itu diungkapkan pihak keluarga Jafar setelah mengamati salahsatu dari lima mayat yang ditemukan pihak kepolisian Tanah karo, Sumut, Rabu 6 September lalu. Keyakinan itu, kata Tjut Zahara, adik perempuan Jafar, berdasarkan persamaan ciri-ciri khusus yang dimiliki abang kandungnya itu dengan salahsatu mayat yang ditemukan masyarakat Desa Nagalingga, Kecamatan Merek, kabupaten Tanah Karo, Sumut. Ciri-ciri khusus itu antara lain adanya jahitan bekas operasi di bagian perut-Jafar memang tidak lagi memiliki usus panjang karena operasi usus buntu yang dijalaninya di AS setahun lalu-, adanya tonjolan kecil di belakang tengkuk dan gigi geraham sebelah kiri sudah tercabut.

Berdasarkan keyakinan itu, dan setelah mendapat persetujuan tim dokter forensik dari Polda Sumut, keluarga Jafar segera membawa jenazah aktivis HAM itu pulang ke Aceh, untuk kuburkan di kampung halamannya Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Dua, Aceh Utara., Jumat, 8 September 2000. Menurut Jamaluddin Hamzah, adik lelaki Jafar, jenazah abangnya itu diberangkatkan dari Medan hari Kamis pukul 17.00 WIB dan tiba di rumah duka pada pukul 01.00 wib dinihari. Pemakaman dilakukan pada dinihari itu juga. Mengingat kondisi jenazah yang sudah tidak memungkinkan menunggu lama.

Pemakaman dilaksanakan sekitar pukul 02.00 WIB dinihari itu turut dihadiri oleh utusan Kedubes AS di Jakarta dan Konsulat AS di Medan, yakni Ted Lyng dan Ronald Deutch yang juga merupakan kerabat almarhum dan sejumlah wartawan.

Situasi di rumah duka yang terletak sekitar 10 KM sebelah Barat Kota Lhokseumawe telah dipenuhi oleh ratusan warga setempat, ketika ambulans jenazah masih berada di dalam perjalanan. Bahkan tenda-tenda darurat untuk menampung tamu pun segera didirikan.

Duka yang mendalam

Rasa duka mendalam menyeruak tidak hanya di dalam keluarga Jafar, tetapi di kalangan NGO-NGO dalam dan luar negeri, serta di Aceh sendiri. Kabar itu juga menjadi begitu ironis karena pada 5 September 2000 lalu, sehari sebelum berita kematian jafar, di Universitas New School, New York, tempat Jafar selama ini mengikuti program pendidikan pasca sarjana, digelar sebuah konferensi pers menyangkut sebulan hilangnya aktivis yang dikenal secara internasional itu.Menurut milis dari IFA, New York kepada Koalisi NGO-HAM Aceh, jumpa pers itu diikuti antara lain Sidney Jones (Direktur Human Rights Watch Divisi Asia), Robert Gates (First President New School University), William Hirst (Acting Dean of New School University’s Graduate faculty for Political and Social Science), Robert Jeresky (Executive Director IFA), Joseph Crowley (Anggota Kongres AS), dan Michael Sweeney (President of International Human Rights committee Association in New York).
 
“Kami sangat prihatin dengan kasus yang menimpa Jafar, seorang mahasiswa aktif di Universitas ini (New School) yang giat memperjuangkan masalah pelanggaran hak asasi manusia,” kata Robert Gates, First Vice President New School University. Sedangkan Dekan Fakultas Pasca Sarjana untuk jurusan Ilmu Politik di Universitas tersebut, William Hirst pada kesempatan itu meminta pemerintah AS, media, serta publik Amerika untuk terus mempertanyakan kasus yang menimpa Jafar. Menurutnya, pihaknya juga saat ini sedang berpikir untuk menggelar suatu simposium tentang persoalan Aceh pada awal Oktober mendatang.Pernyataan simpatik lainnya datang dari Joseph Crowley, anggota Kongres AS dari Partai Demokrat. Ia mengatakan bahwa Jafar adalah salah seorang penduduk AS dengan status permanent resident di wilayah pemilihannya. “Ia adalah seorang permanent resident di wilayah pemilihan saya,” katanya. Karena itu, anggota Kongres ini menuntut pemerintah AS dan Indonesia agar melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap kasus yang menimpa Jafar. Bahkan, kata Joseph, dirinya telah mengirim sebuah surat kepada FBI, Biro Intelijen Federal AS, untuk membantu proses investigasi, juga surat kepada DPR AS dan termasuk Dubes Indonesia di AS. Dan ia juga telah bicara dengan Wakil Menlu Thomas Pickering yang kemudian berjanji untuk memprioritaskan bagi keselamatan Jafar agar bisa kembali ke AS.

Lebih ironis lagi, karena ternyata kegiatan yang sama juga dilakukan di Banda Aceh oleh Farmidia (Forum Aksi Reformasi Mahasiswa Muslim Daerah Istimewa Aceh) satu kelompok buffer aksi mahasiswa yang 5 September lalu menggelar diskusi sehubungan dengan sebulan menghilangnya jafar dengan pembicara Saifuddin Bantasyam (FP-HAM), Aguswandi (Kontras Aceh) dan Muhammad Nazar (SIRA). 

Tapi memang tidak ada seorang pun yang menduga bahwa hanya sehari setelah konferensi pers yang diharapkan dapat menjadi dorongan bagi dipulangkannya Jafar, justru kabar yang diperoleh adalah tentang kematiannya. Kesedihan yang mendalam itu tercermin begitu kuat dalam sebuah catatan in memoriam yang ditulis oleh Syaifuddin Bantasyam di sebuah surat kabar lokal dengan judul sederhana : In Memoriam Jafar Siddiq hamzah. Termasuk sebuah iklan dukacita dari kalangan NGO di Aceh dengan sebuah catatan khusus yang berbunyi ; Dan sesungguhnya kebenaran tidak akan pernah mati! (Wira/halim)


SOSOK JAFAR DI MATA MN DJULI
Izinkan saya memperkenalkan diri saya terlebih dahulu. Saya Muhammad Nur Djuli, Press and Communications Directaor IFA, International Forum for Aceh, sebuah organisasi bukan kerajaan yang berpusat di New York, yang bertujuan membela hak-hak asasi dan keadilan bagi bangsa Aceh.

IFA ditubuhkan oleh masyarakat Aceh di Amerika Syarikat dibawah inisiatif Allahyarham Jafar Siddiq Hamzah, seorang peguam yang terpaksa melarikan diri ke AS kerana diterror oleh tentera Indonesia, oleh sebab ketika itu Allahyarham sering membela para pejuang Aceh Merdeka yang tertangkap dan dihadapkan ke mahkamah. Allahyarham Jafar, sejak tahun 70an lagi, ketika beliau baru lulus dari university telah terus kerkecimpung dalam usaha membela kepentingan awam, seperti mengadakan kajian yang disponsor oleh Green Peace atas kasus-kasus pemotongan hutan secara haram di Sumatra Utara dan Aceh. Beliau juga telah menghasilkan sebuah kertas kerja yang agak menyeluruh tentang pengotoran alam semula jadi atau pollution, yang dibiayai oleh sebuah institusi Kanada. Ketika berlakunya status DOM, atau Daerah Operasi Militer di Aceh dari tahun 1989 hingga 1999, dalam waktu mana puluhan ribu rakyat Aceh telah dibunuh, disiksa dan dihilangkan oleh tentera dan polis kerajaan Indonesia, Allahyarham bekerja di Lembaga Bantuan Hukum Indonesia di Medan dan mengambil kes-kes membela orang-orang awam yang dituduh menjadi ahli perjuangan Aceh Merdeka. Kes terakhir yang diambilnya sebelum terpaksa melarikan diri ke Amerika Syarikat kerana diterror oleh tentera dan polis Indinesia di Medan adalah membela 6 orang anggota Aceh Merdeka. Ke enam orang ini kemudian telah menemui maut mereka dibakar dengan memasukkan tilam dalam dua buah sel di mana mereka di tahan, yang oleh pihak penjara di Medan dikatakan dilakukan oleh banduan-banduan lain, tetapi Jafar telah secara langsung meminta tanggung jawab pihak penjara kerana insiden tersebut terjadi pada waktu malam yakni ketika semua banduan sudah dikunci dalam sel masing-masing. Seminggu kemudian pejabatnya sendiri dibakar dan dia pun melarikan diri.

Setelah lebih kurang lima tahun berana di AS dan mendapat taraf penduduk tetap, beliau telah beberapa kali kembali ke Jakarta, Medan dan Aceh, dan selalunya berusaha membantah kekerasan luar biasa yang dilakukan tentera dan polis Indonesia terhadap rakyat awam di Aceh. Kerananya Allahyarham itu selalu menjadi sasaran kebencian pihak berkuasa.

Ketika kembali terakhir kali, beliau bermaksud mempersiapkan banyak projek untuk kepentingan hak-hak asasi manusia di Aceh. Beliau bermaksud menghidupkan kembali sebuah akhbar minguan  berbahasa Aceh, Su Atjeh, dan juga mempersiapkan kes saman civil terhadap Exxon-Mobil di mahkaman AS, dengan memajukan kes tersebut terlebih dahulu di Mahkamah rendah di Lhok Seumawe, Aceh Utara, untuk menentukan basis undang-undangnya. Beliau telah diancam akan dibunuh melalui surat-surat terbuka di Internet. Namun Allahyarham tidak mengindahkan itu semua. Dalam jawabannya kepada salah sebuah surat ancaman tersebut Allahyarham menulis: “Sekiranya ditakdirkan Allah nyawa saya berakhir ditangan anda, maka saya redha menerimanya”.

Sebagaimana para hadhirin ketahui dari poster jemputan, pada 5 Ogos 2000 beliau telah diculik pada waktu tengah hari di sebuah jalan besar yang ramai di Medan. Pada 2 September mayatnya, bersama 3 mayat lain yang tidak dikenal, telah ditemukan di tanah Karo, lebih kurang 60 km dari Medan, dalam keadaan sangat mengharukan. Terdapat tanda-tanda siksaan berat seperti kedua lutut dan telapak kakinya dibor dengan power drill. Mayat beliau juga dijumpai berbalut dawai berduri. Tempat penemuan mayat tersebut terkenal di kalangan penduduk tempatan sebagai tempat pembuangan mayat-mayat pejuang Aceh Merdeka oleh pihak tentera Indonesia.

Yang lebih menyedihkan lagi, pihak Polis Indonesia di Medan hingga sekarang masih tidak  membenarkan hasil autopsy diserahkan kepada keluarganya, hingga pihak keluarganya, walaupun telah yakin benar bahwa mayat yang dijumpai itu adalah Jafar Siddiq, tetapi masih tidak mendapatkan kepastian yang 100 % saheh tentangnya.

Jafar hanyalah salah seorang saja dari kes-kes penghilangan dan pembunuhan yang terjadi di Aceh. Setiap hari terdapat 10 hingga 15 orang awam dibunuh di Aceh. Sejak Januari tahun ini saja sudah 1600 orang awam terkorban ditangan pihak pasukan keselamatan Indonesia, ratusan lagi yang hilang dan berpuluh-puluh wanita diperkosa, ratusan rumah, kedai dan berpuluh-puluh sekolah telah dibakar.

Sekiranya di zaman pemerintahan kuku besi Suharto pembunuhan, penyiksaan, penghilangan dan pemerkosaan dilakukan dengan tersembunyi, sekarang hampir setiap kejadian mendapat liputan akbar yang luas di seluruh dunia.

Dalam hal ini, saya sangat merasa heran sedikit sekali orang awam di Malaysia yang mengetahui keadaan sebenarnya di Aceh. Saya sangat mengethui akan sifat budi luhur rakyat Malaysia yang selalu membantu mereka yang tertindas hinggakan ke tempat-tempat yang begitu jauh seperti Bosnia dan Chechna. Oleh kerana itu sungguh menakjubkan bagi saya bagaimana boleh dikatakan tiada perhatian sama sekali dari rakyat Malaysia terhadap jenayah-jenayah kemanusiaan yang begitu dahsyat yang terjadi di Aceh, daerah yang begitu dekat, baik secara geography mahupun secara persaudaraan dari zaman ke zaman dengan rakyat Semenanjung Tanah Melayu ini. Setelah mencoba membuat kajian-kajian sepintas lalu, menjadi jelas bagi saya bahawa sebenarnya bukan rakyat Malaysia yang memilih kasih dalam memberikan keprihatinan kemanusiaan, tetapi hanyalah kerana mereka tidak tahu akan keadaan yang sebenarnya.

Oleh kerana itulah saya dan saudara-saudara saya dari Aceh semuanya yang berada di Malaysia, teramat sangat terharu dan bersyukur apabila mendengar rancangan kawan-kawan muda seperti Josef Benedict dari Amnesty International Malaysia, Lilianne dan Pauline Fan dari Students Coalition for Aceh yang berpusat di New York dan sekarang telah menubuhkan chapter Malaysia, untuk mengadakan sebuah kempen penerangan ttg Aceh yang sekarang kita lihat realisasinya ini.

Hasil kerja mereka ini benar-benar merupakan tribute yang sebaik-baiknya bagi Allahyarham Jafar Siddiq. Jafar mempunyai pendirian yang sangat optimis dalam setiap pekerjaan yang dilakukannya. Ketika beliau mengajak saya membuat conference IFA di Bangkok yang telah berlangsung dengan berjaya sekali pada 24-25 Julai 1990, saya telah dengan ragu-ragu sekali berkata padanya bahwa itu tidak mungkin dilakukan kerana biayanya yang sangat tinggi sedangkan kami tidak mempunyi dana sama sekali. Allahyarham menjawab: “kalau kita menunggu hingga ada wang baru memulai sesuatu kerja, maka kita tidak akan pernah mencapai apa-apa”. Sebelum itu Jafar dan kawan-kawannya di Amerika Syarikat telah berjaya mengadakan seminar-seminar di New York, Washington dan Los Angelos. Kemudian IFA balik ke Aceh dan mengadakan meeting kempen dan advocacy di Banda Aceh pada 15-16 Januari 2000 yang mengasilkan formalisasi SCHRA yakni Support Committee for Human Rights in Aceh yang menggabungkan 51 NGO Aceh, Indonesia dan antarabangsa dari Jepun, Korea, Eropah dan Amerika Syarikat. Pada bulan Ogos yang lalu IFA telah mengadakan satu lagi konference di American University di Washington dengan dihadiri lebih 200 peserta yang datang dari Aceh, Jakarta, Sweden, Britain dan dari berbagai States di Amerika Syarikat sendiri, dengan para speakers yang terdiri dari wakil-wakil dari Kerajaan Indonesia, dari ASNLF yang berpusat di Stockholm dan wakil-wakil NGO hak asasi manusia dunia yang besar-besar seperti Carmel Budiardjo dari Tapol, London, Sidney Jones dari Human Rights Watch, Washington, Louisa Boegli, bekas staff Henri Dunant Centre, Geneva, dan lain-lainnya.

Ketika kami mengadakan seminar di Bangkok , kes pelanggaran hak-hak asasi berat di Aceh tidak banyak orang yang tahu di luar Aceh. Jafar telah berusaha gigih sekali untuk merubah keadaan tersebut, yang InsyaAllah hasilnya kita lihat sekarang, hampir seluruh dunia telah mengetahui apa yang terjadi di Aceh. Kalau di Malaysia keadaan tersebut masih belum begitu meluas diketahui masyarakat maka itu adalah salah kami sendiri orang Aceh yang berada di sini, yang kurang berusaha memberi penerangan. Maka kerana itulah saya bagi pihak saudara-saudara saya dari Aceh sangat berbesar hati dan berterima kasih sekali kepada sahabat-sahabat muda kami dari Malaysia yang telah bekerja bertungkus lumus mengasilkan pertemuan ini. Seperti Jafar, kawan-kawan muda ini bukanlah orang kaya harta, tetapi kaya pikiran dan usaha. Jafar ketika hidupnya di New York, sambil bersekolah melanjutkan kajian post-graduatenya dalam bidang undang-undang di New School University of New York, bekerja sebagai derebar teksi di penghujung minggu dan hari-hari cuti awam lainnya. Tetapi beliau telah berjaya mengadakan mesyuarat-mesyuarat besar dan telah berjaya menjadikan konflik Aceh suatu masalah yang menjadi perhatian masyarakat antarabangsa. Sikap optimist, azam yang kuat, kepercayaan akan diri sendiri, kejuruan dan keikhlasan, itulah sifat-sifat Allahyarham Jafar Siddiq Hamzah yang patut kita, terutama saudara-saudara saya dari Aceh teladani.

Kepada Tuan-Tuan dan Puan-puan yang sudah sudi datang maraikan kempen ini, saya bagi pihak masyarakan Aceh di Malaysia umumnya, dan bagi pihak IFA khususnya, mengucapkan ribuan terimakasih.

Sumber : http://ngo-ham.9f.com/kasus_yang_belum_diusut_jafar_siddiq.htm 

 

Posted at 03:10 am by Achehpasee
Make a comment  

Saturday, September 24, 2005
SPECIAL PASCA TSUNAMI

SPECIAL PASCA TSUNAMI

"Venn" Norwegia Untuk Aceh

Empati Bagi Korban Tsunami

Eka Tanjung, 23 Mei 2005

Eka_Norge_17_mai_Oslo-copy.jpg

Massa di Karl Johans Gate, Oslo pada tanggal 17 Mei 2005

17 Mei 1905 lalu tepat 100 tahun silam Norwegia dan Swedia berpisah dari persekutuan bersama. Maka tanggal itu merupakan perayaan hari nasional Norwegia sebagai negara berdaulat. Pada hari itu matahari bersinar cerah seolah-olah Dewa Surya ingin menambah kegembiraan penduduk negara Skandinavia. Nuansa Aceh, sekecil apa pun, tak ketinggalan pada hari perayaan Norwegia ini. Rakyat Norwegia merasa empati terhadap para korban tsunami Aceh.

Pawai panjang
Di Oslo, pawai bergerak di jalan utama Karl Johans gate, sepanjang 2,5 km dari Stasiun Besar sampai dengan Istana Kerajaan, kemudian berbalik ke arah sepanjang air sebelah Utara kota. Setiap kelompok etnis masyarakat dari ujung Utara Norwegia sampai dengan paling Selatan mengirimkan sekitar seratus orang. Mereka berbaris mengusung puluhan bendera Norwegia beserta lambang daerah dan organisasi sekolah. Pemandangan makin indah dan marak lagi dengan ribuan bendera yang berlambai-lambai.

Salah satu warga Aceh di Stavanger
Asnawi Ali seorang warga Aceh yang sejak dua tahun tinggal di pengasingan di kota Stavanger, Norwegia, mengikuti perayaan hari nasional Norwegia. Ia berkomentar "Betapa masyarakat di sini tampak damai dan tenang, berbeda dengan kampung halaman saya di Aceh." Ia mencontohkan bagaimana bebasnya dia mengibarkan bendera apa saja di Norwegia, sedangkan kalau di Aceh mengibarkan bendera Aceh Merdeka, bisa dikejar-kejar TNI.

Eka_Norge_Asnawi002.jpg

Asnawi Ali, pemuda Aceh di pengasingan

Bencana tsunami di Aceh juga meninggalkan trauma besar dalam kehidupan Asnawi Ali, mantan aktivis mahasiswa. Ia kehilangan kedua orang tua dan adik kandungnya, pada dini hari 26 Desember 2004. "Mereka hilang dalam sekejap dan jasad tidak ditemukan kembali ", tuturnya sedih. Ia melanjutkan,"Ayah dan ibu sudah meninggal, sebelum saya bisa mempersembahkan kepada mereka sebuah novel yang menceritakan tentang saya dan mengenai penderitaan perjuangan rakyat Aceh." Novel itu ditulisnya bersama dengan seorang kawan di Amerika Serikat dan menceritakan pengalaman hidupnya di masa DOM di Aceh hingga kisah hidupnya di Malaysia dan Norwegia.

Nuansa Aceh di Stavanger
Hari nasional Norwegia ini tidak hanya dirayakan di ibukota saja. Di daerah-daerah juga digelar pesta dengan tema masing-masing. Umpamanya di Stavanger, kota yang didiami seratusan lebih warga Aceh, memilih tema keragaman nasionalitas. Kesenian dari berbagai negara seperti Pakistan, Kurdistan, Somalia, Rusia dan lainnya ditampilkan di panggung umum di pusat kota.

Eka_Norge_Tari-Aceh01.jpg

Tarian Aceh di Stavanger, Foto: Yusuf

Enam gadis cilik Aceh juga manampilkan tarian daerah. Aceh cukup mendapat perhatian pada perayaan di Stavanger. Televisi nasional Norwegia juga menyorot tarian bocah-bocah cilik Aceh dan mewawancarai salah seorang penarinya. Bukan hari itu saja Aceh disorot. Pemerintah dan masyarakat Norwegia sangat peduli dengan para korban tsunami dan merupakan salah satu penyumbang besar untuk korban tsunami. Norwegia menyalurkan bantuan medis dan bantuan lain lewat Palang Merah Norwegia.

Dunia musik pun tak ketinggalan. 70 artis dan musisi Norwegia melantunkan tembang khusus berjudul "Venn" yang artinya kawan sebagai ungkapan turut berduka dengan para korban. Tembang lembut berbahasa Norwegia yang dirilis 18 Januari 2005 ini adalah hasil karya, Lene Marlin dan Espen Lind. Lagu "Venn" dilumat dalam kemasan double album CD berisikan 37 lagu, berbahasa Inggris dan Norwegia.

CD "Venn" untuk Aceh
Hasil penjualan CD berisi tembang baru dan lama ini sepenuhnya dihibahkan untuk membantu korban tsunami di Aceh. Pekan pertama Februari, tembang ini melejit memuncaki tangga musik Norwegia dan radio-radio tak jenuhnya memutar tembang yang berlirik

Eka_NorgeCrew+cover-Venn.jpg

Artis dan musisi Norwegia yang menyayikan "Venn"

empati yang artinya..."Ketika langit terbakar hitam, ketika mentari berubah malam, dan semua orang pergi dan kamu merasa tertinggal sendiri." "...Aku bisa menjadi teman, Aku lihat engkau jatuh, aku lihat engkau jatuh.. Kau ingin bangkit kembali, aku ingin menjadi teman.."







Album "Venn" menembus rekor terlaris. Dalam tujuh hari saja 42 ribu keping album terjual. Dengan kata lain dalam beberapa hari saja sudah terkumpul dana lima juta kroner atau sekitar 600 ribu euro. Mereka berharap penjualan album ini bisa mencapai 80.000 keping, sehingga dana sekitar satu setengah juta euro bisa disumbangkan kepada Palang Merah Norwegia untuk proyek bantuan korban tsunami di Aceh.

Posted at 08:35 pm by Achehpasee
Comments (10)  

Previous Page Next Page